Jalan-jalan Ke Candi Sumberawan : Wisata Sejarah Singosari

Candi Sumberawan : Wisata Sejarah Singosari – Candi yang terletak di desa Toyomarto, kecamatan Singosari, Malang ini merupakan candi Budha yang berbentuk stupa dan adalah salah satu peninggalan kerajaan Singosari yang masih lestari hingga kini. Keberadaan Candi Sumberawan, yang ditemukan pada tahun 1904 ini, menjadi salah satu bukti bahwa sejarah kerajaaan Singosari bukanlah dongeng pengantar tidur belaka.

Candi Sumberawan : Wisata Sejarah Singosari
Alumni smanda88 dengan latar
Candi Sumberawan
Pada hari Kamis, 28 Desember 2017, beberapa alumni smanda88 yang tergabung dalam komunitas pecinta sejarah, mengunjungi candi Sumberawan dipandu oleh Yu Anny (Anny Widhi)  yang sangat mengenal seluk beluk wilayah Singosari. Setelah makan hidangan di rumahnya, dengan menggunakan sepeda motor, mereka beriringan menuju tempat bersejarah ini.

Berikut ini adalah ulasan mereka tentang Candi Sumberawan.

Baca Juga : 

Sejarah Candi Sumberawan

Candi Sumberawan adalah peninggalan sejarah kerajaan Singosari yang berasal dari sekitar abad 14 atau awal abad 15. Menurut prasasti Negarakertagama, disebutkan jika Candi Sumberawan merupakan “Kasuranggan” atau Taman Surga Nimfa. Sebutan sebagai taman surge sepertinya masuk akal karena meskipun hanya sisa-sisanya saja, keindahan tempat ini memang seperti surga atau tempat peristirahatan yang nyaman.

Candi Sumberawan : Wisata Sejarah Singosari
Candi Sumberawan dan pemandangan di sekitarnya
Dahulu, pada tahun 1359, Raja Hayam Wuruk, Raja Majapahit yang termasyur dan putra dari Tribuana Tunggadewi, Putri Raja Kertanegera, telah berkunjung atau bahkan sering mengunjungi taman Kasuranggan ini.

Keberadaan Candi Sumberawan ini, pertama kali ditemukan pada tahun 1904 lalu diadakan pemugaran pada tahun 1937 oleh pemerintah Hindia Belanda, terutama pada bagian kaki candi. Dan, Candi Sumberawan merupakan satu-satunya candi yang berbentuk stupa di Jawa Timur.


Daya Tarik Candi Sumberawan 

Pemerintah daerah Kabupaten Malang telah menyulap Candi Sumberawan yang memiliki mitos angker dan penuh misteri menjadi salah satu tempat wisata yang layak dikunjungi. Selain dapat menikmati sejuknya udara pegunungan dibawah hamparan pohon pinus yang tertata rapi, pengunjung juga dapat belajar mengenal sejarah Kerajaan Singosari.

Berikut ini adalah beberapa hal yang menjadi daya tarik dari Candi Sumberawan.


1. Sumber Air 

Melihat namanya Sumberawan berasal dari kata Sumber dan Awan yang berarti sumber yang berada di atas awan atau dapat diartikan sebagai sumber dari khayangan. Sedangkan dari fungsi Candi Sumberawan yang merupakan tempat pemujaan, sumber air tersebut digunakan sebagai tempat untuk menyucikan diri sebelum melakukan puja saji.

Sumber ini memancarkan air yang sangat jernih, konon air dari sumber ini dipercaya dapat memberikan kesembuhan dari penyakit, kesehatan dan awet muda. Sehingga banyak pengunjung tempat ini melakukan mandi keramas atau cuci muka atau hanya sekedar meneguk airnya saja. Konon, pada saat-saat tertentu air di Sumberawan ini berwarna biru.


2. Tempat Berfoto

Sebelum memasuki areal Candi Sumberawan, hamparan pohon pinus terbentang menyambut kedatangan kita. Melewati jalanan setapak, dalam setiap langkah kaki kita , tercium harum khas bunga cemara ditambah lagi udara segar yang memenuhi tempat ini menyegarkan paru paru kita.

Candi Sumberawan : Wisata Sejarah Singosari
Chudori, Fatchul, Endang dan Anny W
Candi Sumberawan : Wisata Sejarah Singosari
Endang, Anny, Fatchul dan Istri Chudori

Candi Sumberawan : Wisata Sejarah Singosari
Chudori dan Istri, Fatchul, Endang, Anny dan Sueb

Sebuah sungai kecil membentang seolah membelah tempat wisata ini dengan airnya yang sangat jernih hingga terlihat bebatuan di dasarnya. Sungguh suatu pemandangan yang indah, maka sangat pantas bila kita menyempatkan diri berfoto dengan latar alam yang indah ini.


3. Tempat Nongkrong

Selain itu pengelolah tempat wisata ini  juga menyediakan tempat-tempat nongkrong sambil menikmati kopi panas atau teh manis maupun makanan lainnya. Dengan udara yang sejuk, duduk bercengkerama bersama teman-teman terasa begitu nikmat.

4. Tempat Meditasi

Bagi mereka yang sedang mencari kedamaian batin khususnya para spiritualis, Candi Sumberawan merupakan tempat yang cocok untuk melakukan olah rasa maupun meditasi.

Suasana yang tenang dan jauh dari kebisingan membuat tempat ini menjadi pilihan untuk mencari inspirasi, meditasi atau hanya sekedar uji nyali, terutama pada malam hari.

Itulah beberapa hal yang menjadi daya tarik untuk mengunjungi Candi Budha yang berada di lereng gunung Arjuno ini.

Kunjungan Alumni smanda88

Sebagai generasi yang mencintai sejarah tanah air, beberapa alumni smanda88, melakukan perjalanan ke tempat ini dengan tujuan rekreasi sekaligus mengenang kembali sejarah kerajaan Singasari.

Sambil duduk santai dibawah pohon, kami menikmati lezatnya makan nasi jagung, urap-urap, terancam dan sambel tumpang dengan lauk ikan asin, mendol dan rempeyek, semua masakan itu buatan Mbak Endang.

Candi Sumberawan : Wisata Sejarah Singosari
Mbak Endang

Ternyata selain pandai membuat olahan jamu, trampil melukis diatas media jam dinding juga kanvas, wanita ayu ini pandai memasak.

Setelah menikmati makanan khas Mbak Endang, kami duduk bercengkerama di sebuah pondok yang disediakan sambil minum kopi hitam dan teh manis. Sungguh satu perjalanan yang menyenangkan meskipun tidak harus membayar mahal.

Terima kasih, untuk Yu Anny yang telah memandu dan menjamu kami.

Penutup

Demikian ulasan tentang perjalanan beberapa alaumni smandan88 saat mengunjungi Candi Sumberawan, salah satu tempat wisata sejarah di Desa Toyomarto, Singosari, Malang.

Pada musim liburan, banyak pilihan tempat-tempat wisata yang hendak kita kunjungi, namun wisata sejarah yang murah meriah seperti Candi Sumberawan ini layak kita jadikan pilihan terutama untuk mengenalkan sejarah kepada anak-anak kita.

Salam Satu Jiwa smanda88

Artikel Lainnya :



Jalan jalan Ke Tanggamus : Tangga Menuju Surga

Jalan jalan Ke Tanggamus : Tangga Menuju Surga – Tanggamus adalah nama salah satu kabupaten di Propinsi Lampung, Indonesia. Nama Tanggamus diambil dari nama gunung yang berdiri tegak di jantung kabupaten ini yaitu gunung Tanggamus. Sedangkan menurut masyarakat setempat, nama Tanggamus memiliki makna sebagai  Tangga Menuju Surga.

Menurut kepercayaan masyarakat, gunung Tanggamus merupakan tempat untuk melakukan khalwat atau menyepi hingga mendapatkan ketenangan batin dan kedamaian batin yang merupakan tangga menuju ke surga hati.

Pada liburan akhir tahun ini, Susilowati, alumnus smanda88, bersama keluarganya berjalan-jalan ke kabupaten yang berada di ujung selatan pulau Sumatera ini. Kebetulan, suami, Albasri, adalah warga asli kabupaten Tanggamus sehingga perjalanannya kali ini merupakan perjalanan pulang kampung.

Jalan jalan Ke Tanggamus : Tangga Menuju Surga

Menggunakan jalur darat, dengan menggunakan mobil pribadi. Setelah menembus kemacetan Ibukota dan kepadatan antrian di pelabuhan Merak lalu menyusuri perairan selat Sunda maka sampailah di pelabuhan Bakauheni, Lampung. Perjalanan dilanjutkan lagi hingga ke bagian selatan propinsi Lampung, Kabupaten Tanggamus yang beribukota Kota Agung.

Jalan jalan Ke Tanggamus : Tangga Menuju Surga
Perjalanan darat menuju Tanggamus
Kegiatan pertama yang dilakukan Susilowati di Kota Agung, bersama keluarga adalah mengikuti prosesi pernikahan keponakan mereka menggunakan adat Lampung. Berada di tengah kesibukan persiapan pernikahan, prosesi pernikahan dan kegiatan paska pernikahan membuatnya larut dalam pekerjaan dapur bersama kerabatnya.

Setelah  larut dalam hingar bingar prosesi pernikahan, Susilowati, berjalan-jalan ke dermaga 3 Kota Agung, Lampung Selatan. Menikmati keindahan pantai serta mengamati kesibukan para nelayan pulang dari menangkap ikan, memberikan nuansa tersendiri. Seperti terlihat pada foto dan video berikut ini.

Jalan jalan Ke Tanggamus : Tangga Menuju Surga
Susilowati dengan latar pemandangan indah
di Dermaga 3 Kota Agung, Tanggamus
Jalan jalan Ke Tanggamus : Tangga Menuju Surga
Suasana kesibukan nelayan di Dermaga 3, Kota Agung, Tanggamus
Jalan jalan Ke Tanggamus : Tangga Menuju Surga
Sri Andini (Susi Junior) bersama saudara di Dermaga 3
Jalan jalan Ke Tanggamus : Tangga Menuju Surga
Sri Andini dengan pemandangan laut yang indah di Dermaga 3

Kemudian, mereka mengunjungi salah satu usaha keluarga yaitu usaha pengolahan kopra, yang sudah lama dirintis oleh suaminya sejak lama, seperti terlihat pada foto berikut ini.

Jalan jalan Ke Tanggamus : Tangga Menuju Surga
Usaha Pengolahan Kopra
Jalan jalan Ke Tanggamus : Tangga Menuju Surga
Usaha Pengolahan Kopra Susilowati
Pada hari berikutnya, Susilowati bersama putri semata wayanganya, Sri Andini Puspitasari, berjalan-jalan ke kebun mereka di daera Way Awi, desa Ciawi, Kota Agung, Lampung Selatan. Berikut ini adalah beberapa moment yang sempat diabadikan.

Jalan jalan Ke Tanggamus : Tangga Menuju Surga
Sri Andini di Kebun Way Awi

Jalan jalan Ke Tanggamus : Tangga Menuju Surga
Susilowati di Kebun Way Awi, Desa Ciawi
Berikut ini adalah video kenangan Sri Andini saat berjalan-jalan bersama orangtuanya ke kebun di Way Awi, desa Ciawi, Kota Agung, Tanggamus.


Banyak kegiatan lainnya yan dilakukan Susilowati bersama keluarganya selama berada di Kota Agung, Lampung Selatan. Tentunya, lebih menyenangkan dibandikan saat berada ditengah kesibukan kota Jakarta.

Jalan jalan Ke Tanggamus : Tangga Menuju Surga
Kegiatan Lain dari Susi : Menggoreng Kopi dan Memasak

Baca Juga :

Penutup

Demikian sekelumit ulasan perjalanan Susilowati ke Kota Agung, Tanggamus, Lampung Selatan.  Dengan melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang dapat memberikan ketentraman, kenyamanan dan keindahan akan dapat menjadi sarana refreshing, lepas dari kesibukan pekerjaan dan sejenak melepakan beban kehidupan.

Refreshing tidak harus mahal dan mewah, dimanapun kita berada, asalkan hati kita merasa tenang, nyaman dan damai maka itulah tempat rekreasi kita.

Bagi teman-teman yang sedang melakukan perjalanan ke luar kota atau mengunjungi tempat-tempat wisata dimanapun berada, silahkan berbagi sehingga informasi tentang tempat-tempat wisata tersebut dapat menjadi acuan bagi lainnya.

Salam Satu Jiwa smanda88

Artikel Lainnya :



Ternyata Bahagia Itu Sederhana dan Tidak Mahal

Bahagia Itu Sederhana dan Tidak Mahal – Bila anda berfikir untuk menjadi bahagia harus mengeluarkan biaya yang banyak, mewah dan mahal maka mari berfikir kembali. Mengapa? Karena bahagia bukan terletak pada materi dan kekayaan belaka namun terletak di hati kita. Sehingga dengan cara sederhana dan hati yang sederhana pula kita dapat merengkuhnya.

Ternyata Bahagia Itu Sederhana dan Tidak Mahal
Bahagia Itu Sederhana
Pola fikir yang menyatakan jika kita akan bahagia apabila sudah memiliki rumah mewah, harta melimpah dan istri atau pasangan yang sempurna , sebaiknya mulai kita kikis lalu mulai menggali lebih dalam ke diri kita sendiri.

Memang tidak dapat dipungkiri bila pada jaman sekarang, materi dan kekayaan mampu membuat seseorang dihargai, disegani dan dihormati oleh orang lain. Sehingga kita melihatnya, mereka sudah bahagia, segala kebutuhannya dapat dengan mudah didapatkan. Namun, apa yang kita lihat dari sisi luar belum tentu sama dengan apa yang mereka rasakan.

Begitu pula, seseorang yang terlihat kekurangan belum tentu dia susah hatinya. Seperti kisah Nabi Ayub, yang tidak ada hentinya dikaruniai musibah, apakah beliau merasa susah? Justru dengan musibah dan penderitaan tersebut menjadikan beliau merasa lebih dekat dengan Allah SWT. Itulah kebahagiaan sesungguhnya.

Sementara Fir’aun yang di beri harta dan kekayaan melimpah ruah, apakah merasa bahagia? Bahkan dalam tidurnya pun, dia gelisah dan ketakutan, kalau-kalau ada orang lain yang akan merebut dan mengambil alih harta dan kekuasaannya. Harta Kekayaan mengikatnya dengan erat lalu menjauhkan dirinya dari Allah SWT. Padahal harta benda tersebut hanya titipan saja dan akan kembali kepada pemilikNya, kelak.

Satu peribahasa dalam bahasa Jawa yang dapat mewakili kondisi tersebut adalah :
Sawang Sinawang

Maknanya, sebagai manusia yang hidup dalam peradaban dimana harta dan materi adalah segalanya sebaiknya kita mencari kebutuhan kita yang hakiki sehingga tidak silau dengan gemerlapnya harta. Dan, apa yang kita lihat dari luarnya saja belum tentu sesuai dengan kondisi di dalamnya.

Berikut ini adalah beberapa cara sederhana dari para alumni smanda88 saat mengisi liburan akhir tahun dan mencari kebahagiaan.

Bahagia Itu Sederhana

1. Jalan-jalan Bersama Keluarga

Slamet Wahyudi, alumni smanda88, sosok sederhana yang aktif di berbagai kegiatan alumni, mengisi liburan akhir tahun dengan berjalan-jalan bersama keluarganya ke tempat wisata alam yaitu Sumber Maron.

Berikut ini adalah beberapa foto kenangan Slamet bersama keluarganya.

Ternyata Bahagia Itu Sederhana dan Tidak Mahal
Slamet dan Anak-anaknya di Sumber Maron

Ternyata Bahagia Itu Sederhana dan Tidak Mahal
Slamet Bersama Istri di Sumber Maron
Baca Juga :

2. Bertemu Teman-teman

Beda lagi dengan Agustin Setyorini dan Maria Rosita, mereka mengisi liburan akhir tahunnya dengan cara bertemu dan berkumpul dengan teman-teman lama. Menjalin silaturahmi bersama teman-teman merupakan salah satu pintu merengkuh bahagia. Tentunya lebih murah dan tidak butuh biaya mahal.

Berikut ini foto kenangan Agustin Setyorini dan Maria Rosita saat bersama teman-teman mengunjungi kampong warna-warni, Jodipan, Malang.

Ternyata Bahagia Itu Sederhana dan Tidak Mahal
Maria Rosita, Rini dkk di Kampung Warna-warni

Ternyata Bahagia Itu Sederhana dan Tidak Mahal
Agustin Setyorinin dkk dengan latar payung warna warni

Baca Juga : Kampung Jodipan : Habis Gelap Terbitlah Pelangi

3. Berkumpul Dengan Keluarga Besar

Susilowati, sang “Kabag WA” smanda88, menikmati liburan akhir tahun bersama keluarga mengunjungi keluarga besar suaminya yang berada di Tanggamus, Lampung, Sumatera Selatan. Kebetulan bertepatan dengan adanya hajatan pernikahan keponakannya.

Berikut ini foto kenangan yang dikirimkan Susi saat berada bersama keluarga besarnya, Dia terlihat larut dalam suasana kekeluargaan dan  indahnya kebersamaan keluarga besarnya.

Ternyata Bahagia Itu Sederhana dan Tidak Mahal
Susilowati Bersama Keluarga
Dalam acara pernikahan adat Lampung

Penutup

Demikian ulasan tentang artikel “Bahagia Itu Sederhana dan Tidak Mahal.” Harapan dengan membaca artikel ini, kita senantiasa berbahagia dimanapun, dalam kondisi apapun serta kapan saja.

Karena bahagia itu sederhana.

Salam Satu Jiwa smanda88

Artikel Lainnya :



Kenangan Kelas 2 Bio1 Smanda88 Di Sendang Biru, Malang

Kenangan Kelas 2Bio1 Smanda88 Di Sendang Biru – Pada tahun 1986 yang lampau saat berada di kelas 2 Biologi 1 SMAN 2 Malang, Ferry Feriansyah bersama teman-teman sekelas melakukan darma wisata ke pantai Sendang Biru, Malang Selatan. Pantai yang sangat indah dan eksotis ini berada di kecamatan Sumbermanjing Wetan, kabupaten Malang.

Keindahan pantai Sendang Biru semakin lengkap dengan adanya cagar alam yang berada di pulau Sempu. Keberadaan pulau Sempu ini membuat ombak di pantai Sendang Biru tenang dan tidak terlalu besar seperti layaknya pantai-pantai lain yang berada di pesisir selatan pulau Jawa.

Kenangan Kelas 2 Bio1 Smanda88 Di Sendang Biru
Pantai Sendang Biru dan Pulau Sempu
Selain sebagai objek wisata yang wajib dikunjungi, pantai Sendang Biru dikenal juga sebagai tempat pendaratan dan pelelangan ikan terbesar di Malang. Sehingga anda dapat berwisata sekaligus membeli ikan laut yang segar lalu ketika tetangga anda bertanya, anda boleh mengatakan jika ikan itu hasil pancingan sendiri. Hehehe..

Nama Sendang Biru sendiri disematkan oleh warga setempat karena di pantai ini terdapat sumber mata air yang biasa disebut sebagai “sendang”, dan warnanya biru.

Pantai Sendang Biru secara resmi dikelolah oleh Perhutani, tepatnya oleh KBM unit II Kabupaten Malang sehingga fasilitas dan infra struktur tempat wisata ini terjaga dan semakin ditingkatkan daya gunanya. Beberapa fasilitas yang ada di pantai ini antara lain adalah penginapan, guess house, rumah jaga dan persewaan perahu.

Rute perjalanan menuju pantai Sendang Biru cukup mudah, anda dapat menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil dan motor, juga kendaraan umum. Khusus untuk kendaraan umum anda dapat menggunakan Mikrolet jurusan Gadang – Turen – Sendang Biru.

Kelas 2 Bio 1 Smanda88 dan Sendang Biru

Pada tahun 1986, Fery Feriansyah bersama teman-teman yang tergabung dalam kelas 2 Biologi 1 SMAN 2 Malang, melakukan darma wisata ke pantai Sendang Biru dengan mencarter Colt. Mereka yang ikut pada waktu itu antara lain Teguh, Gunawan, Suharto, Joko Sukun, Eko anak Pak Sagi, Sapto atau Saphi, Bambang DC dan Imam Hidayat, merupakan satu-satunya anak Fisika yang ikut atau melokan.

Sedangkan siswa putri yang ikut adalah Antonia Rita, Erni yuli, Asri, Nunik, Tri Ainul alias Inul dan Khoiriyah.

Berikut ini adalah beberapa foto kenangan yang diabadikan pada moment tersebut.

Kenangan Kelas 2 Bio1 Smanda88 Di Sendang Biru
Kelas 2 Biologi 1
Kenangan Kelas 2 Bio1 Smanda88 Di Sendang Biru
Pose Kelas 2 Bio 1 dengan latar Sendang Biru
Kenangan Kelas 2 Bio1 Smanda88 Di Sendang Biru
Teguh dengan rambut khasnya sedang mendorong perahu

Kenangan Kelas 2 Bio1 Smanda88 Di Sendang Biru
Ferry dkk in action..

Kenangan Kelas 2 Bio1 Smanda88 Di Sendang Biru
Pose kelas 2 bio 1 bermain air 

Kenangan Kelas 2 Bio1 Smanda88 Di Sendang Biru
Kelas 2 bio 1 saat naik kapal ke pulau Sempu

Kenangan Kelas 2 Bio1 Smanda88 Di Sendang Biru
Fery, Saphi dll saat naik perahu ke pulau Sempu


Penutup

Demikian ulasan tentang kenangan hampir 30 tahun yang lalu saat alumni smanda88 khususnya kelas 2 Biologi 1 melakukan darma wisata ke pantai Sendang Biru, Malang.

Melihat foto-foto tersebut akan terbayang bagaimana keceriaan dan kegembiraan kita pada waktu itu, bermain air, naik perahu bersama-sama dan bercanda ria bersama. Bila waktu dapat diputar, mungkin senang rasanya kembali pada masa itu.

Andai saja …

Jalan-jalan Alumni Smanda88 Ke Hutan Pinus Wajak, Malang

Jalan-jalan Alumni Smanda88 Ke Hutan Pinus Wajak – Hutan Pinus Wajak adalah hamparan pohon-pohon pinus menjulang tinggi dan berbaris rapi yang membentang di lereng gunung Semeru dengan area seluas satu hektar. Keberadaan hutan pinus yang terletak di Desa Sumberputih, Wajak, Malang, Jawa Timur, ini semakin melengkapi keindahan gunung tertinggi di Pulau Jawa ini.

Tempatnya yang nyaman dengan udaranya yang sejuk ditambah harum aroma khas Bunga dan daun pinus ditambah pemandangannya yang indah membuat pengunjung tempat wisata ini akan betah berlama-lama.


Keberadaan tempat wisata baru di Malang ini, menarik perhatian beberapa alumni smanda88 sehingga tergerak untuk mengunjungi wisata alami yang indah dan menarik ini. Foto-foto yang ada dalam tulisan ini adalah foto yang diabadikan pada saat alumni smanda88 berada di hutan pinus tersebut.

Jalan-jalan Alumni Smanda88 Ke Hutan Pinus Wajak
Alumni smanda88  bergaya bebas
dengan latar hutan pinus Wajak

Semenjak dibuka pada awal tahun 2017 lalu, hutan pinus Wajak, Malang ini ramai dikunjungi oleh para pelancong yang menyukai wisata alam. Bahkan tidak hanya wisatawan dari wilayah Malang saja, tapi dari luar kota  juga cukup banyak yang datang mengunjungi tempat ini.

Jalan-jalan Alumni Smanda88 Ke Hutan Pinus Wajak
Alumni smanda88 dengan kompak bergaya dalam barisan,
di depan tampak Rita dengan tawa renyahnya.

Selain pemandangan indah, adanya spot foto yang unik dan instagramable menjadi alasan utamanya. Pengelolah tempat wisata ini menambahkan aksesoris payung payung yang bergantungan di antara pokok-pokok pinus sehingga hutan pinus ini menjadi lebih menarik lagi.

Jalan-jalan Alumni Smanda88 Ke Hutan Pinus Wajak
Yuntias melenggang bak model tahun 80an
Sepanjang jalan menuju area wisata, banyak terdapat  warung warung yang menjual aneka makanan sehingga memudahkan para pelancong mendapatkan makanan. Sambil menikmati makanan, para pengunjung dapat bersantai di tempat tempat duduk yang terbuat dari batang pohon.

Jalan-jalan Alumni Smanda88 Ke Hutan Pinus Wajak
Pose mesra Erdik, Fatcul, Surianto dan Istri,
dibelakangnya tampak payung-payung bergantungan

Hutan pinus Wajak ini tepatnya berada di dusun arjosari, kelurahan Sumberputih, Kecamatan Wajak, Malang, Jawa timur. Dari kota Malang, lokasinya sekitar 40 km, karena terbilang wisata baru maka belum banyak petunjuk arah yang akan ditemui.

Memasuki lokasi hutan pinus Wajak belum dikenakan tiket masuk, pengunjung hanya dikenakan biaya parkir yakni Rp 5 ribu/motor. Bagi anda penggemar wisata alam, hutan pinus Wajak dapat menjadi pilihan rekreasi yang murah di waktu libur.

Demikian sekelumit ulasan tentang jalan-jalan alumni smanda88 ke hutan pinus Wajak, Malang. Melihat foto-foto mereka, rasanya ingin ikut bergabung namun keterbatasan waktu dan kesibukan membuat kita tidak dapat melakukannya.

Kegiatan jalan-jalan seperti ini memang harus sering kita lakukan karena selain dapat menentramkan jiwa dan menghilangkan beban pekerjaan, juga akan memperkuat ikatan persaudaraan di antara para alumni smanda88.

Salam Satu Jiwa smanda88

Artikel Lainnya :


Jembatan Kaca Pertama Di Indonesia

Jembatan Kaca Pertama Di Indonesia – Dari Kampung Pelangi Jodipan menuju Kampung 3D, nantinya tidak perlu lagi melewati jalan darat yang cukup melelahkan karena kedua kampung tersebut sudah dihubungkan dengan jembatan gantung dengan material kaca sebagai pijakannya. Jembatan gantung ini merupakan jembatan kaca yang pertama di Indonesia.

Jembatan Kaca Pertama Di Indonesia
Fery, Alumnus SMANDA88 dan Jembatan Kaca
Mengutip dari antaranews, jembatan kaca karya dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kian mempercantik keberadaan kampung tematik, yakni Kampung Tridi dan Kampung Wisata Jodipan (Kampung Warna Warni) di Kota Malang, Jawa Timur.

Jembatan sepanjang 25 meter dengan lebar 1,5 meter yang menghubungkan Kampung Warna Warni dan Kampung Tridi itu bakal diresmikan Wali Kota Malang Moch Anton dan dihadiri Rektor UMM Fauzan serta Vice Presiden PT Inti Daya Guna Aneka Warna (Indana) Steven Antonius Sugiharto, yang juga berkontribusi besar dalam menyulap kampung kumuh menjadi destinasi wisata baru.

Jembatan Kaca Pertama Di Indonesia
Jembatan Kaca dan Kampung Pelangi
Menurut dosen pembimbing kedua mahasiswa UMM yang mendesain jembatan kaca tersebut, Lukito Prasetyo di Malang, Jawa Timur, Senin, jembatan kaca ini tidak hanya memiliki fungsi penghubung antara Kampung Warna Warni dan Kampung Tridi, tapi juga memiliki nilai estetika.

"Oleh sebab itu, dari sekian desain yang dipamerkan pada Wali Kota Malang, terpilihlah model jembatan gantung dengan tambahan kaca sebagai material pijakannya agar pada malam hari pijakan jembatan yang terbuat dari kaca dapat memperlihatkan lampu-lampu yang indah," ujarnya.

Setelah disetujui berbagai pihak, katanya, jembatan itu akhirnya dikerjakan dengan membutuhkan waktu lima bulan, 8 Mei hingga 7 Oktober 2017.

Kedua mahasiswa Teknik Sipil UMM yang mendesain jembatan kaca tersebut adalah Mahatma Aji dan Khoriul di bawah bimbingan dosen mereka Lukito Prasetyo.

Mereka pernah menjadi juara umum Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia Tahun 2015. Untuk pembangunan, mereka difasilitasi oleh Indana, pemilik produk Mix One.

Sementara itu, Vice President Indana Steven mengaku tidak sedikit biaya yang dihabiskan untuk pembuatan jembatan kaca tersebut, sekitar enam ton cat tersalurkan untuk memperindah KWJ dan Kampung Tridi.

"Indana sebagai perusahaan cat asli Malang akan terus membantu pembangunan di Kota Malang. Wujud kepedulian sosial ini sebagai bentuk terima kasih kami pada warga," kata Steven.

Jembatan kaca yang berdiri di atas Sungai Brantas ini sekaligus menjadi jembatan kaca pertama di Indonesia. Jembatan yang didominasi warna kuning emas itu bisa digunakan dua jalur atau dua orang yang berjalan berpapasan. Diestimasikan, jembatan dapat menampung sekitar 50 orang dan menanggung beban 250 kilogram.

Jembatan Kaca Pertama Di Indonesia
Kampung Tridi Dari Atas Kembatan Kaca
Kampung Warna Warni dan kampung Tridi terletak berseberangan dan dipisahkan aliran Sungai Brantas. Sebelum jembatan dibangun, wisatawan yang ingin menikmati kedua sisi kampung harus menaiki puluhan anak tangga dan memutar lewat Jembatan Brantas.

Munculnya jembatan kaca menjadi fasilitas baru bagi warga sekaligus alternatif bagi pengunjung ini diharapkan mempermudah akses dan kekerabatan antar kampung pun kian rekat untuk mempercantik Kota Malang.


Selain itu, karena berlantai kaca, warga dan pengunjung diajak menikmati pemandangan dasar sungai dari atas jembatan. Kaca yang transparan memiliki sensasi tersendiri layaknya Jembatan Kaca di Zhangjiajie China.

Munculnya berbagai kampung tematik di Kota Malang, berawal dari Kampung Warna Warni di Jodipan yang diinisiasi delapan mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM yang tergabung dalam kelompok praktikum Public Relations (PR) Guys Pro.

Lahirnya Kampung Warna Warni menjadi inspirasi bagi berdirinya Kampung Tridi yang berada di seberang sungai, bahkan kampung-kampung tematik lainnya, sepeti Kampung Putih, Kampung Hijau dan lainnya.

Artikel Lainnya :

Coban Glothak : Wisata Air Terjun Di Lereng Gunung Kawi

Coban Glothak : Wisata Air Terjun Di Lereng Gunung Kawi – Salah satu wisata air terjun yang berada di lereng gunung Kawi adalah Coban Glothak. Air terjun dengan ketinggian 100 meter dengan lingkungan yang masih alami.

Menurut penuturan warga setempat, selain Coban Glothak ini sebenarnya masih ada 7 air terjun lainnya yang masih belum ditemukan dan Coban Glotak merupakan air terjun yang berada di urutan terbawah dari 7 coban yang berada di atasnya.

Coban Glothak : Wisata Air Terjun Di Lereng Gunung Kawi

Karena berada di lereng gunung Kawi yang penuh dengan pepohonan, sehingga untuk menuju ke air terjun ini lumayan sulit. Pengunjung harus rela berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang lumayan jauh.

Air terjun Coban Glotak secara administrative berada di di Desa Bedalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Propinsi Jawa Timur. Pengelolah Air terjun ini adalah Perhutani, dan untuk masuk ke dalam Coban Glotak anda harus membayar harga tiket sebesar Rp. 4,000. Harga yang cukup murah bagi pemandangan yang menakjubkan.

Sedangkan asal usul nama Coban Glotak itu berasal dari bunyi bebatuan yang jatuh bersama jatuhnya air terjun. Kemungkinan sih, itu adalah bunyi dari bebatuan yang jatuh karena terbawa air. Batu yang jatuh tadi tentu akan menimbulkan bunyi “klotak – klotak”.

Nah, mungkin dari kejadian alami itulah yang kemudian malah dijadikan nama air terjun tersebut. Beberapa orang beruntung yang berkunjung kesini, mungkin akan bisa mendengarkan bebunyian itu tadi disaat malam hari tiba.

Cara menuju air terjun Coban Glotak ini tidak terlalu sulit karena lokasinya yang berjarak sekitar 15 km ke arah barat Kota Malang atau, sekitar 4 km dari Desa Bedalisodo dengan kondisi jalanan yang kurang bagus (sebagian makadam dan sebagian tanah liat).

Kunjungi Situs ini : https://spot-misteri.blogspot.co.id

Setelah sampai di Desa Bedalisodo perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak mengikuti aliran sungai yang mata airnya berasal dari aliran Coban Glothak sendiri. Perjalanan ini kurang lebih akan menempuh jarak sekitar 2 km, hingga tiba di lokasi keberadaaan air terjun.

Bagi anda yang belum mengenal kota Malang dengan baik, mungkin agak sulit untuk menemukan petunjuk jalan tentang keberadaan lokasi air terjun tersebut. Namun teknologi GIS (Geographic Information System) yang ada di ponsel, dapat membantu anda atau bertanya kepada penduduk setempat.

Alumni Smanda88 Dan Coban Glothak

Alumni SMANDA88 pada 28 tahun yang lalu juga memiliki kenangan indah saat bersama-sama berada di air terjun Coban Glothak, seperti terlihat pada foto dibawah ini.

kenangan alumni smanda88 di coban glothak
Kenangan alumni smanda88 di Coban Glothak

Coban Glothak : Wisata Air Terjun Di Lereng Gunung Kawi
Kenangan di Coban Glothak

Demikian ulasan tentang tempat wisata air terjun yang berada di lereng gunung Kawi yang menjadi tujuan wisata favorit di kalangan anak muda.

Artikel Terkait :



Pantai Balekambang dan Kelas I6 Smanda88

Pantai Balekambang  dan Kelas I6 Smanda88 – Pada tahun 1988 yang lampau ketika masih kelas I di SMA Negeri 2 Malang, kami penghuni kelas I6 khususnya para laki-laki sempat merajut kenangan indah dengan berdarma wisata mengunjungi pantai Balekambang. Salah satu tempat wisata pantai di kabupaten Malang yang banyak dikunjungi orang.

Pantai Balekambang  dan Kelas I6 Smanda88

Berada di kecamatan Bantur, 65 Km sebelah selatan kota Malang, pantai Balekambang, merupakan salah satu obyek wisata pantai paling populer di Malang pada waktu itu. Selain sebagai tempat wisata, pantai yang terbentang dengan sangat indah dimana terdapat karang laut sepanjang 2 km dan memiliki lebar 200 meter ke arah laut, juga sering digunakan untuk ritual budaya serta upacara keagamaan bagi yang beragama Hindu.

Di pantai yang eksotis ini terdapat tiga gugusan pulau kecil yang terdekat dengan dengan pantai ini, yaitu Pulau Ismoyo, Pulau Anoman dan Pulau Wisanggeni. Sebuah Pura megah yang bernama Pura Luhur Amertha Jati, dan sebuah jembatan yang menghubungkannya melalui pantai utama Balekambang  berada tepat di atas pulau Ismoyo..

Menjelang bulan Suro atau pada hari raya umat Hindu, pantai Balekambang akan lebih ramai dari biasanya karena akan digelar upacara Surohan dan upacara Jalanidha Puja.

Bagi anda yang ingin berkunjung ke pantai Balekambang, anda bisa menggunakan rute perjalanan melalui kecamatan Gondanglegi dan kecamatan Bantur, dilanjutkan ke desa Srigono atau melalui kecamatan Kepanjen, semua bisa diakses menggunakan kendaraan pribadi, baik motor ataupun mobil.

Kenangan Kelas I6 di Pantai Balekambang

Saat masih berada di kelas I6 SMA Negeri 2 Malang, dengan menggunakan mobil carteran, kami berkunjung ke Pantai Balekambang. Selain berenang dan bermain pasir, menikmati indahnya matahari terbit dan terbenam, kami juga menyempatkan diri menikmati keindahan pantai di malam hari.

Pantai Balekambang  dan Kelas I6 Smanda88

Tampak dalam foto dari kiri ke kanan : Kusnoto, Sulistyono, Fery, Abdi Wijaya, Alm. Junaedi, Alm. Budiono, Nursalim dan Aslachudin.

Demikian, kenangan kami sebagian siswa kelas I6 saat bersama-sama mengunjungi Pantai Balekambang pada tahun 1988 yang silam. Bagi teman-teman, yang memiliki foto-foto kenangan saat berada di SMA Negeri 2 Malang, silahkan berbagi sehingga dapat membantu mengenali teman-teman kita pada masa 30 tahun silam.

9 Tempat Wisata Sejarah Di Malang Raya

9 Tempat Wisata Sejarah Di Malang Raya – Malang Raya, selain terkenal sebagai salah satu tujuan wisata favorit di Jawa Timur yang memiliki tempat-tempat wisata yang indah dan menarik ditambah dengan kulinernya yang menggoda, ternyata Malang Raya juga merupakan wilayah di Jawa Timur yang memiliki banyak tempat wisata sejarah dari jaman kerajaan terdahulu baik berupa candi maupun prasasti.

Tercatat ada 9 tempat wisata sejarah yang patut dikunjungi oleh traveller pecinta sejarah. Saat ini tempat-tempat bersejarah tersebut dilindungi oleh pemerintah mengingat banyak benda-benda bersejarah yang dicuri atau dirusak. Sungguh sangat disayangkan!

Sehingga bila anda berencana mengunjungi Malang Raya maka sempatkan juga untuk mengunjungi tempat-tempat wisata bersejarah yang ada di wilayah Malang Raya ini.  Meskipun bentuk fisiknya kurang menarik namun dibaliknya menyimpan catatan-catatan sejarah nenek moyang kita.


Daftar 9 Tempat Wisata Sejarah Di Malang Raya

1. Candi Singosari

Karena letaknya tepat di pinggir jalan raya sehingga mudah ditemukan dan bentuk bangunannya masih terawat dengan baik maka Candi Singosari merupakan salah satu candi yang banyak dikunjungi terutama pada hari libur. Banyak kegiatan-kegiatan budaya yang menggunakan candi Singosari ini sebagai latar belakangnya.

Dibangun sekitar abad ke-12, Candi Singosari ini adalah candi bercorak Hindu-Buddha yang dibangun sebagai tempat perabuan dan bentuk pendharmaan untuk raja terakhir Kerajaan Singosari, Sang Kertanegara. Bangunan Candi Singosari masih terlihat megah dan anggun memancarkan semangat Raja Kertanegara dalam menjadikan Singosari sebagai kerajaan besar di Nusantara.

9 Tempat Wisata Sejarah Di Malang Raya

Selain bangunan utama, di area candi ini berjejer beberapa arca Hindu dalam kondisi terawatt meskipun banyak kekurangan. Saat memasuki ruang utama candi Singosari akan tercium bau wangi bunga dan kepulan asap dupa yang masih menyala.


Candi Singosari terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Sekitar 10 km dari pusat Kota Malang, tepatnya di depan pasar Singosari. Jika anda naik bis dari arah Surabaya, turun di pasar Singosari lalu menyeberang jalan maka akan anda temukan pintu gerbangnya. Untuk menuju Candi Singosari anda bias berjalan kaki atau naik “dokar” atau kereta kuda yang banyak mangkal di sekitar pintu gerbang.

2. Candi Kidal

Peninggalan Kerajaan Singosari lainnya yang berbeda lokasi adalah Candi Kidal, terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Candi bercorak Hindu-Buddha dan dibangun pada abad ke-12 sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Anusapati yang memerintah selama dua dekade antara tahun 1227 – 1248.

9 Tempat Wisata Sejarah Di Malang Raya

Karena lokasinya yang cukup jauh dari pusat kota Malang yakni sekitar 20 km Candi ini termasuk candi yang jarang mendapatkan pengunjung.

3. Candi Sumberawan

Salah satu peninggalan Kerajaan Singosari berupa candi lainnya adalah Candi Sumberawan berada di kaki Gunung Arjuna, tepatnya di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari. berjarak sekitar 6 km dari Candi Singosari.

9 Tempat Wisata Sejarah Di Malang Raya

Bentuk bangunan Candi Sumberawan tidak terlalu besar hanya sebuah stupa,  yang dulunya untuk peribadatan umat Buddha. Candi Sumberawan ini pertama kali ditemukan pada tahun 1904, sedangkan pemugarannya dilakukan pada tahun 1937.


4. Candi Bocok

Meskipun secara fisik, bentuk bangunan candi ini tidak terlalu istimewa namun Candi Bocok memiliki ciri khas berupa sebuah arca Desa Siwa dengan bentuk sangat detail. Di mata kolektor benda purbakala, Arca ini memiliki nilai yang tinggi dan konon pernah dicuri oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Saat ini, Arca tersebut disimpan oleh Muljianto, juru kunci dari Candi Bocok.

9 Tempat Wisata Sejarah Di Malang Raya

Menurut catatan sejarah, Candi Bocok merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit. yang dibuat pada masa Prabu Hayam Wuruk. Candi Bocok berada di Dusun Bocok, Desa Pondokagung, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang.


5. Candi Jago

Candi Jago adalah candi yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Singosari berada di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang yang dibangun sekitar abad ke-13. Meskipun bentuk bangunannya sudah tidak utuh lagi, candi ini memiliki keunikan jika dilihat dari samping karena bagian atas candi ini sudah hilang. Menurut warga sekitar, candi ini pernah disambar petir yang membuat bagian atas candi menjadi terpotong.

9 Tempat Wisata Sejarah Di Malang Raya

6. Candi Jawar

Peninggalan bersejarah dari kerajaan Majapahit lainnya adalah Candi Jawar,yang berada di Desa Mulyoasri, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang. Bentuk candi Jawar yang menyerupai gapura  ini tepat berada di kaki Gunung Semeru yang menjulang tinggi.

9 Tempat Wisata Sejarah Di Malang Raya

Bangunan candi Jawar menghadap langsung ke gunung paling tinggi di pulau Jawa dan berada di ruang terbuka yang dipenuhi rumput ilalang

7. Candi Badut

Peninggalan bersejarah pada masa sebelum Singasari adalah Candi Badut,  merupakan candi bercorak Hindu yang diyakini sebagai peninggalan Prabu Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan. Diperkirakan, candi ini dibangun pada tahun 760 M dan berlokasi di bagian barat Kabupaten Malang tepatnya di Kecamatan Dau.

9 Tempat Wisata Sejarah Di Malang Raya

Candi Badut berada di sebuah kompleks taman yang tertata dengan sangat rapi. Konon, Candi Badut pertama kali ditemukan pada tahun 1921 oleh seorang pekerja Belanda.


8. Candi Telih

Dibandingkan dengan candi-candi lainnya, nama Candi Telih sangat jarang terdengar dan tidak banyak dikunjungi orang karena keberadaan candi ini pun mungkin belum diketahui banyak orang. Candi Telih berada di tempat  sangat terpencil dan hanya bisa diakses dengan berjalan kaki atau menggunakan motor trail. Dari desa terdekat, candi ini masih berjarak sekitar 4 km yaitu dari Dusun Donogragal, Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso.

9 Tempat Wisata Sejarah Di Malang Raya

Bangunan candi ini memang tidak terlalu istimewa dengan tinggi hanya sekitar 2 meter saja dan bangunan candi ini menghadap ke gunung Arjuno sehingga diperkirakan candi ini dipergunakan untuk tempat berdoa atau bersemedi.

9. Candi Songgoriti

Songgoriti adalah nama sebuah taman rekreasi yang berada di Kota Batu. Di kompleks taman ini selain wahana mainan terdapat sebuah candi tepatnya berada di Pemandian Air Panas Alami sehingga dikenal dengan nama Candi Songgoriti. Karena dibuat oleh Mpu Supo maka disebut juga sebagai Candi Supo atau lebih familiar disebut dengan Candi Songgoriti.

9 Tempat Wisata Sejarah Di Malang Raya

Peninggalan bersejarah ini dibangun pada masa Mpu Sindok, pendiri wangsa Isyana, yang merupakan raja pertama Kerajaan Medang. Keberadaan Candi Songgoriti ini pertama kali ditemukan oleh seorang arkeolog Belanda bernama Van I Isseldijk pada tahun 1799.

Baca Juga :


Demikian pembahasan 9 Tempat Wisata Sejarah di Malang Raya. Mungkin, bentuk candi-candi tersebut sudah tidak menarik lagi, namun keberadaannya merupakan pertanda adanya sejarah nenek moyang atau leluhur kita. Tanpa adanya leluhur kita maka sekarang ini, kita juga tidak ada.

Sehingga dengan mengunjungi tempat-tempat wisata sejarah ini akan mengingatkan kita pada nenek moyang dan leluhur kita khususnya sejarah yang menyelimutinya.

“Bangsa Besar adalah Bangsa Yang Menghormati leluhurnya.”