Jembatan Kaca Pertama Di Indonesia

Jembatan Kaca Pertama Di Indonesia – Dari Kampung Pelangi Jodipan menuju Kampung 3D, nantinya tidak perlu lagi melewati jalan darat yang cukup melelahkan karena kedua kampung tersebut sudah dihubungkan dengan jembatan gantung dengan material kaca sebagai pijakannya. Jembatan gantung ini merupakan jembatan kaca yang pertama di Indonesia.

Jembatan Kaca Pertama Di Indonesia
Fery, Alumnus SMANDA88 dan Jembatan Kaca
Mengutip dari antaranews, jembatan kaca karya dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kian mempercantik keberadaan kampung tematik, yakni Kampung Tridi dan Kampung Wisata Jodipan (Kampung Warna Warni) di Kota Malang, Jawa Timur.

Jembatan sepanjang 25 meter dengan lebar 1,5 meter yang menghubungkan Kampung Warna Warni dan Kampung Tridi itu bakal diresmikan Wali Kota Malang Moch Anton dan dihadiri Rektor UMM Fauzan serta Vice Presiden PT Inti Daya Guna Aneka Warna (Indana) Steven Antonius Sugiharto, yang juga berkontribusi besar dalam menyulap kampung kumuh menjadi destinasi wisata baru.

Jembatan Kaca Pertama Di Indonesia
Jembatan Kaca dan Kampung Pelangi
Menurut dosen pembimbing kedua mahasiswa UMM yang mendesain jembatan kaca tersebut, Lukito Prasetyo di Malang, Jawa Timur, Senin, jembatan kaca ini tidak hanya memiliki fungsi penghubung antara Kampung Warna Warni dan Kampung Tridi, tapi juga memiliki nilai estetika.

"Oleh sebab itu, dari sekian desain yang dipamerkan pada Wali Kota Malang, terpilihlah model jembatan gantung dengan tambahan kaca sebagai material pijakannya agar pada malam hari pijakan jembatan yang terbuat dari kaca dapat memperlihatkan lampu-lampu yang indah," ujarnya.

Setelah disetujui berbagai pihak, katanya, jembatan itu akhirnya dikerjakan dengan membutuhkan waktu lima bulan, 8 Mei hingga 7 Oktober 2017.

Kedua mahasiswa Teknik Sipil UMM yang mendesain jembatan kaca tersebut adalah Mahatma Aji dan Khoriul di bawah bimbingan dosen mereka Lukito Prasetyo.

Mereka pernah menjadi juara umum Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia Tahun 2015. Untuk pembangunan, mereka difasilitasi oleh Indana, pemilik produk Mix One.

Sementara itu, Vice President Indana Steven mengaku tidak sedikit biaya yang dihabiskan untuk pembuatan jembatan kaca tersebut, sekitar enam ton cat tersalurkan untuk memperindah KWJ dan Kampung Tridi.

"Indana sebagai perusahaan cat asli Malang akan terus membantu pembangunan di Kota Malang. Wujud kepedulian sosial ini sebagai bentuk terima kasih kami pada warga," kata Steven.

Jembatan kaca yang berdiri di atas Sungai Brantas ini sekaligus menjadi jembatan kaca pertama di Indonesia. Jembatan yang didominasi warna kuning emas itu bisa digunakan dua jalur atau dua orang yang berjalan berpapasan. Diestimasikan, jembatan dapat menampung sekitar 50 orang dan menanggung beban 250 kilogram.

Jembatan Kaca Pertama Di Indonesia
Kampung Tridi Dari Atas Kembatan Kaca
Kampung Warna Warni dan kampung Tridi terletak berseberangan dan dipisahkan aliran Sungai Brantas. Sebelum jembatan dibangun, wisatawan yang ingin menikmati kedua sisi kampung harus menaiki puluhan anak tangga dan memutar lewat Jembatan Brantas.

Munculnya jembatan kaca menjadi fasilitas baru bagi warga sekaligus alternatif bagi pengunjung ini diharapkan mempermudah akses dan kekerabatan antar kampung pun kian rekat untuk mempercantik Kota Malang.


Selain itu, karena berlantai kaca, warga dan pengunjung diajak menikmati pemandangan dasar sungai dari atas jembatan. Kaca yang transparan memiliki sensasi tersendiri layaknya Jembatan Kaca di Zhangjiajie China.

Munculnya berbagai kampung tematik di Kota Malang, berawal dari Kampung Warna Warni di Jodipan yang diinisiasi delapan mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM yang tergabung dalam kelompok praktikum Public Relations (PR) Guys Pro.

Lahirnya Kampung Warna Warni menjadi inspirasi bagi berdirinya Kampung Tridi yang berada di seberang sungai, bahkan kampung-kampung tematik lainnya, sepeti Kampung Putih, Kampung Hijau dan lainnya.

Artikel Lainnya :

Coban Glothak : Wisata Air Terjun Di Lereng Gunung Kawi

Coban Glothak : Wisata Air Terjun Di Lereng Gunung Kawi – Salah satu wisata air terjun yang berada di lereng gunung Kawi adalah Coban Glothak. Air terjun dengan ketinggian 100 meter dengan lingkungan yang masih alami.

Menurut penuturan warga setempat, selain Coban Glothak ini sebenarnya masih ada 7 air terjun lainnya yang masih belum ditemukan dan Coban Glotak merupakan air terjun yang berada di urutan terbawah dari 7 coban yang berada di atasnya.

Coban Glothak : Wisata Air Terjun Di Lereng Gunung Kawi

Karena berada di lereng gunung Kawi yang penuh dengan pepohonan, sehingga untuk menuju ke air terjun ini lumayan sulit. Pengunjung harus rela berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang lumayan jauh.

Air terjun Coban Glotak secara administrative berada di di Desa Bedalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Propinsi Jawa Timur. Pengelolah Air terjun ini adalah Perhutani, dan untuk masuk ke dalam Coban Glotak anda harus membayar harga tiket sebesar Rp. 4,000. Harga yang cukup murah bagi pemandangan yang menakjubkan.

Sedangkan asal usul nama Coban Glotak itu berasal dari bunyi bebatuan yang jatuh bersama jatuhnya air terjun. Kemungkinan sih, itu adalah bunyi dari bebatuan yang jatuh karena terbawa air. Batu yang jatuh tadi tentu akan menimbulkan bunyi “klotak – klotak”.

Nah, mungkin dari kejadian alami itulah yang kemudian malah dijadikan nama air terjun tersebut. Beberapa orang beruntung yang berkunjung kesini, mungkin akan bisa mendengarkan bebunyian itu tadi disaat malam hari tiba.

Cara menuju air terjun Coban Glotak ini tidak terlalu sulit karena lokasinya yang berjarak sekitar 15 km ke arah barat Kota Malang atau, sekitar 4 km dari Desa Bedalisodo dengan kondisi jalanan yang kurang bagus (sebagian makadam dan sebagian tanah liat).

Kunjungi Situs ini : https://spot-misteri.blogspot.co.id

Setelah sampai di Desa Bedalisodo perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak mengikuti aliran sungai yang mata airnya berasal dari aliran Coban Glothak sendiri. Perjalanan ini kurang lebih akan menempuh jarak sekitar 2 km, hingga tiba di lokasi keberadaaan air terjun.

Bagi anda yang belum mengenal kota Malang dengan baik, mungkin agak sulit untuk menemukan petunjuk jalan tentang keberadaan lokasi air terjun tersebut. Namun teknologi GIS (Geographic Information System) yang ada di ponsel, dapat membantu anda atau bertanya kepada penduduk setempat.

Alumni Smanda88 Dan Coban Glothak

Alumni SMANDA88 pada 28 tahun yang lalu juga memiliki kenangan indah saat bersama-sama berada di air terjun Coban Glothak, seperti terlihat pada foto dibawah ini.

kenangan alumni smanda88 di coban glothak
Kenangan alumni smanda88 di Coban Glothak

Coban Glothak : Wisata Air Terjun Di Lereng Gunung Kawi
Kenangan di Coban Glothak

Demikian ulasan tentang tempat wisata air terjun yang berada di lereng gunung Kawi yang menjadi tujuan wisata favorit di kalangan anak muda.

Artikel Terkait :



Pantai Balekambang dan Kelas I6 Smanda88

Pantai Balekambang  dan Kelas I6 Smanda88 – Pada tahun 1988 yang lampau ketika masih kelas I di SMA Negeri 2 Malang, kami penghuni kelas I6 khususnya para laki-laki sempat merajut kenangan indah dengan berdarma wisata mengunjungi pantai Balekambang. Salah satu tempat wisata pantai di kabupaten Malang yang banyak dikunjungi orang.

Pantai Balekambang  dan Kelas I6 Smanda88

Berada di kecamatan Bantur, 65 Km sebelah selatan kota Malang, pantai Balekambang, merupakan salah satu obyek wisata pantai paling populer di Malang pada waktu itu. Selain sebagai tempat wisata, pantai yang terbentang dengan sangat indah dimana terdapat karang laut sepanjang 2 km dan memiliki lebar 200 meter ke arah laut, juga sering digunakan untuk ritual budaya serta upacara keagamaan bagi yang beragama Hindu.

Di pantai yang eksotis ini terdapat tiga gugusan pulau kecil yang terdekat dengan dengan pantai ini, yaitu Pulau Ismoyo, Pulau Anoman dan Pulau Wisanggeni. Sebuah Pura megah yang bernama Pura Luhur Amertha Jati, dan sebuah jembatan yang menghubungkannya melalui pantai utama Balekambang  berada tepat di atas pulau Ismoyo..

Menjelang bulan Suro atau pada hari raya umat Hindu, pantai Balekambang akan lebih ramai dari biasanya karena akan digelar upacara Surohan dan upacara Jalanidha Puja.

Bagi anda yang ingin berkunjung ke pantai Balekambang, anda bisa menggunakan rute perjalanan melalui kecamatan Gondanglegi dan kecamatan Bantur, dilanjutkan ke desa Srigono atau melalui kecamatan Kepanjen, semua bisa diakses menggunakan kendaraan pribadi, baik motor ataupun mobil.

Kenangan Kelas I6 di Pantai Balekambang

Saat masih berada di kelas I6 SMA Negeri 2 Malang, dengan menggunakan mobil carteran, kami berkunjung ke Pantai Balekambang. Selain berenang dan bermain pasir, menikmati indahnya matahari terbit dan terbenam, kami juga menyempatkan diri menikmati keindahan pantai di malam hari.

Pantai Balekambang  dan Kelas I6 Smanda88

Tampak dalam foto dari kiri ke kanan : Kusnoto, Sulistyono, Fery, Abdi Wijaya, Alm. Junaedi, Alm. Budiono, Nursalim dan Aslachudin.

Demikian, kenangan kami sebagian siswa kelas I6 saat bersama-sama mengunjungi Pantai Balekambang pada tahun 1988 yang silam. Bagi teman-teman, yang memiliki foto-foto kenangan saat berada di SMA Negeri 2 Malang, silahkan berbagi sehingga dapat membantu mengenali teman-teman kita pada masa 30 tahun silam.