Home » » Perjuangan Rizki Muhammad Said Mengejar Mimpi Ke Negeri Sakura

Perjuangan Rizki Muhammad Said Mengejar Mimpi Ke Negeri Sakura

Perjuangan Rizki Muhammad Said Mengejar Mimpi Ke Negeri Sakura – Sebuah kisah nyata tentang perjuangan seorang anak yaitu Rizki Muhammad Said, putra Dwi Andayani, dalam mengejar mimpinya agar dapat menuntut ilmu di Negeri Sakura, Jepang. Kisah ini dituturkan sendiri oleh Ibu kandungnya, Dwi Andayani, yang ikut merasakan bagaimana perjuangan anaknya dalam meraih mimpinya.

Perjuangan Rizki Muhammad Said Mengejar Mimpi Ke Negeri Sakura
Rizki Muhammad Said
Mengejar Mimpi Ke Negeri Sakura

Berikut ini adalah penuturannya.

Rizki Muhammad Said Mengejar Mimpi Ke Negeri Sakura

Malam ini aku duduk sambil memandangi foto keluarga Drs.Yuli Triyanto, aku termenung begitu menatap foto dari kedua Jagoanku, terutama pada putra keduaku yang bernama Rizki Muhammad Said.                  

Aku teringat bagaimana perjalanan ananda Rizki dalam mengejar mimpi-mimpinyanya. Bermula dari tahun ke-2 ketika ia kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) Fakultas Teknik Mesin Dirgantara (FTMD).

Untuk dapat kuliah di ITB, bukanlah hal yang mudah dibutuhkan prestasi akademik yang menonjol. Dan, Rizki adalah salah satu yang beruntung dapat kuliah di Kampusnya Bung Karno ini.

Namun, entah mengapa Ananda Rizki mulai berfikir untuk menempuh pendidikan di negara Jepang, apapun program studinya. Pokoknya di Jepang, itu mimpinya.

Alasan untuk berangkat ke Jepang bukan karena Rizki adalah seorang pecinta  serial kartun anime atau komik Jepang meskipun saat-saat terakhir, si bungsu ini sangat getol membaca komik.

Alasan utamanya adalah ketertarikan Rizki terhadap teknologi kereta cepat milik negeri Sakura itu.

Sejak diresmikan pada tahun 1964 hingga sekarang hampir tidak pernah terjadi kecelakaan akibat sistem yang dibuat. Namun berbeda jika kesalahan manusia itu sendiri seperti orang yang sengaja melompat ke rel keretanya.

Kertarikan itu begitu kuat sehingga selalu mengusik hatinya hingga terbawa dalam mimpi. Dan, karena mimpinya itu, Rizki mulai mencari-cari cara dan kesempatan agar dapat pergi ke Jepang. 

Pada tahun kedua di awal semester ketika teman-temannya sibuk mengurusi kuliahnya, Rizki mulai mempersiapkan diri untuk meraih mimpinya dengan memperdalam pengetahuan bahasa Inggrisnya termasuk sertifikasi TORFL.

Untuk mengikuti kursus bahasa Inggris, Rizki rela hidup hemat karena biaya kursusnya diambil dari uang saku kiriman orangtuanya. Dan, ia merahasiakan mimpinya ini kepada kedua orangtuanya sehingga bila ia gagal, tidak membuat kecewa mereka.

Pada tahun itu juga, Rizki mulai mencari kesempatan agar dapat pergi ke Jepang dengan cara mengirimkan dan memasukkan data agar mendapatkan beasiswa atau program pertukaran pelajar. Namun gagal. 

Bagi sebagian orang, usaha Rizki tersebut dianggap hanya membuang waktu dan biaya saja. Namun, karena kecintaannya pada kereta api. Rizki tidak patah semangat dan tetap terus berjuang menggapai mimpinya itu.

Menginjak tahun ke-3 masa perkuliahan, Rizki melakukan hal yang sama yaitu belajar bahasa Inggris lagi dan mulai mengirimkan apply exchange ke Jepang. 

Alhamdulillah berhasil.

Rizki berhasil mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa JYPE selama 1 tahun di Universitas Tohuku di kota Sendai, Jepang beserta beasiswa untuk hidup selama setahun.



Timbul permasalahan baru, karena beasiswa dari pemerintah Jepang ternyata baru cair pada bulan November 2017 dan Rizki datang ke asrama pada bulan September 2017, sehingga selama dua bulan, ia harus memenuhi beaya hidupnya sendiri.

Karena sudah menjadi komitmen dan kemauannya sendiri, ia berusaha bagaimana caranya agar dapat mendapatkan uang meskipun harus bekerja sebagai pegawai restoran atau lainnya.

Satu kesempatan adalah dengan turut melakukan riset, maka menemui dosennya dan berusaha meyakinkan bahwa ketika di Jepang ia akan turut melakukan riset mengenai Redaman Getaran di laboratorium  Struktur Antariksa di Universitas Tohuku, Jepang.

Bak Gayung bersambut, keinginannya melakukan riset mendapat tanggapan positif sehingga ia dapat memenuhi kebutuhannya selama uang beasiswanya belum cair.

Mimpinya pergi dan menuntut ilmu di negeri Sakura tercapai.

Kehidupan Di Negeri Jepang

Ini adalah perjalanan pertama Ananda Rizki pergi ke luar negeri, meskipun sempat deg degan namun Rizki merasa yakin karena mempunyaa banyak teman yang kuliah di negeri Sakura. Walaupun tidak memiliki koneksi, ia tidak perlu merasa cemas karena ada Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) yang tersebar se-antero Jepang, dan mereka siap membantu.

Kendala pertama saat berada di Jepang adalah komunikasi karena Rizki belum menguasai bahasa Jepang.

Saat beberapa kali naik kereta api dan bus,karena bahasa Jepangnya masih belum fasih sehingga terjadi mis-komunikasi dengan petugas atau orang-orang Jepang.



Hanya kata-kata sederhana saja yang dihafalnya seperti minta ijin ke toilet, bahasa Jepangnya “toire e ittemo ii desuka,” dan lain-lain. Namun kesulitan bahasa dapat diatasi menggunakan Google Translate yang sewaktu-waktu dapat di aksesnya karena jaringan internet tersedia dimana-mana.

Saat berada di stasiun kereta api, ia merasa kagum melihat fasilitas yang tersedia dan besarnya bangunan stasiun tersebut.Stasiun di Jepang berada di pusat kota, dan besarnya jauh lebih besar dari stadion-stadion yang ada di Indonesia sehingga bepergian kemana-mana cukup mudah.

Sendai,Jepang

Sendai adalah kota dingin karena terletak di Jepang bagian utara. Ada anekdot yang menceritakan bahwa hangat di Sendai hanya mitos belaka karena hanya pada musim panas saja terasa hangat sedangkan pada musim gugur, musim semi serta musim salju, udaranya sangat dingin sekali.

Sendai, Jepang
Suasana pedesaan di Sendai, Jepang

Sehingga Rizki harus menyesuaikan diri dengan kondisi alam di kota Sendai.

Saat melihat salju turun, satu pemandangan yang dulu hanya dilihatnya di film Home Alone saja, kini ia merasakan sendiri bagaimana berada di hujan salju. Rasanya seperti masuk ke dalam kulkas,kulit jadi kering dan pecah-pecah bahkan terkadang berdarah, saking dinginnya.

Sendai, Jepang Pada Musim Dingin
Sendai, Jepang Kala Musim Dingin

Setelah beberapa bulan menetap di Sendai, Rizki mulai belajat banyak hal dari komunitas muslim yang ada di kota ini termasuk makanan haram dan halal dan kanji-kanji yang menyertainya. Ada beberapa kanji seperti kanji babi, kanji alkohol,emulsier dll.

Kuil Yang Berusaha Menyediakan Menu Halal
Restoran milik Kuil
yang berusaha menyediakan menu halal
Satu hal yang menambah kekagumannya terhadap orang Jepang adalah orang Jepang melakukan riset bahan makanan supaya bisa dikonsumsi oleh umat muslim.

Selain itu, masyarakat Jepang sangat sopan dan tepat waktu. Pernah Rizki mendengar berita ketika petugas kereta api meminta maaf karena kereta berangkat terlalu cepat 20 detik.

Perkotaan Sendai Jepang
Sendai, Jepang

Jepang merupakan Negara yang menjaga kebersihan meskipun jarang tempat sampah.

Mengenai akademik, Alhamdulillah Rizki ditempatkan di Laboratorium yang diinginkannya yaitu di Laboratorium Struktur Antariksa Makihara dimana ia akan melangsungkan Latihan Riset mengenai Redaman Getaran pada Struktur Satelit,Roket atau Pesawat.

Harapannya Rizki akan dapat menerapkan pada kereta api cepat yang akan dibuat di Indonesia. 

Awalnya cukup sulit untuk berinteraksi dengan teman-temannya di Laboratorium karena hanya Sensei (dosen) dan beberapa teman mahasiswa yang bisa berbahasa Inggris, namun akhir-akhir ini Ananda Rizki mulai belajat bahasa Jepang supaya bisa bercengkrama dengan mereka.

Rizky dan anggota laboratorium
Rizki ( atas dua dr kanan ) 
bersama anggota Laboratorium yang diwisuda.

Saat ini musim semi mulai datang di kota Sendai, bunga Sakura mulai bermekaran meskipun hawanya masih tetap dingin.

Rziki dan bunga sakura
Rizki di Sendai saat bunga Sakura bermekaran

Penutup

Saya Ibunda Rizki mohon do'a dan restu pembaca yang budiman semoga Ananda Rizki Muhammad Said mendapatkan kemudahan dan kelancaran dalam melakukan riset dan menggapai cita-citanya, serta semoga umur dan ilmu Ananda Rizki dapat bermanfaat bagi bangsa dan tanah air Indonesia.

Demikian terima kasih,Salam.

Malang,31 maret 2018, Dwi Andayani

2 comments: