Velodrom : Hutan Kota Malang Yang Terabaikan

Velodrom : Hutan Kota Malang Yang Terabaikan - Berbicara mengenai hutan, yang terbayang dalam pikiran kita adalah sebuah tempat dengan banyak pohon yang besar dan hewan-hewan yang buas. Selain sebuah tempat yang menakutkan, hutan memiliki andil besar dalam mengatur dan memberikan hawa bagi penghuni hutan dan sekitarnya. 

Velodrom : Hutan Kota Malang Yang Terabaikan


Dalam sebuah kota yang padat penduduknya, seperti Kota Malang, hutan sangat dibutuhkan dalam memberikan sumbangannya pada lingkungan. Pohon-pohon besar dan berusia lumayan tua banyak terdapat di sepanjang jalan di dalam dan di luar Hutan Kota Velodrom. Pohon-pohon inilah yang memiliki andil besar dalam mengikat oksigen di udara. Oksigen yang sangat dibutuhkan makhluk hidup. 

Selain itu pohon-pohon ini juga akan mengikat air dalam tanah sehingga kita masih bisa punya cadangan air bila musim kemarau. Semakin banyak pohon, semakin banyak cadangan air dan oksigen yang kita punya.

Baca Juga : Hutan Kota Malabar : Paru-paru Kota Dan Wisata Edukasi

Lokasi :

Salah satu hutan yang masih terpelihara baik di Kota Malang adalah Hutan Kota Velodrom. Tempat ini berada di sebelah selatan Kota Malang. Tepatnya di Jalan Kalimosodo XII no. 9, Madyopuro, kecamatan Kedung Kandang , yang merupakan perbatasan antara Kota Malang dengan Kabupaten Malang. Berdekatan dengan hutan ini terdapat Pasar Madyopuro dan beberapa sekolah yang mengelilingi yaitu SMK Negeri 6 dan Universitas Wisnu Wardhana.

Velodrom : Hutan Kota Malang Yang Terabaikan

Selain sebagai hutan kota, Velodrom digunakan sebagai pusat latihan bersepeda. Di tempat ini terdapat sirkuit sebagai tempat latihan bersepeda. Di hari-hari tertentu banyak dijumpai calon-calon pembalap sepeda yang sedang latihan baik orang dewasa ataupun anak-anak.

Velodrom : Hutan Kota Malang Yang Terabaikan


Asal-usul taman Kota Velodrom

Taman Kota Velodrom merupakan taman kebanggaan warga Kota Malang. Mengapa ?  Karena tidak semua daerah memiliki fasilitas seperti ini. Di Indonesia hanya Kota Malang yang memiliki tempat seperti ini selain Jakarta. Sesuai namanya, Velodrom berarti tempat berlatih atau tempat bertanding lebih khususnya sebagai tempat balap sepeda. Sehingga tempat ini merupakan tempat yang diprioritaskan untuk tempat pertandingan atau berlatih balap sepeda.



Hutan Kota velodrom dibangun pada tahun 2000. Pembangunan ini merupakan pemenuhan dari kebutuhan tempat dalam kegiatan Pekan Olah Raga Nasional ke-15 di Jawa Timur.  Pada waktu itu Kota Malang ditunjuk untuk menyelenggarakan beberapa cabang olah raga yang diantaranya adalah balap sepeda sehingga dibangunlah velodrom.

Aktifitas di velodrom

Sebagai tempat latihan bersepeda maka di tempat ini di bagian luar gedung banyak terdapat gundukan-gundukan yang memang dibuat untuk latihan bersepeda atau cross. Pada hari-hari tertentu banyak ditemui pembalap-pembalap sepeda yang sedang berlatih. Baik pembalap dewasa maupun anak-anak. Velodrom ini juga merupakan tempat berkumpulnya pengurus dan olah ragawan yang tergabung dalam Ikatan Sport Sepeda Indonesia. 



Tetapi berbeda keadaannya dengan Velodrom di bagian dalam. Sebagai tempat yang mestinya menjadi kebanggaan warga Malang khususnya dan Jawa Timur mestinya tempat yang istimewa ini mendapat perhatian khusus. Tetapi berbeda dengan kenyataannya. Bagaimana tidak? Bagian dalam Velodrom tidak mendapat perhatian dan perawatan sehingga tempat ini menjadi terbengkalai dan beberapa fasilitas terlihat rusak.



Rumput yang tumbuh liar terlihat di tengah-tengah lapangan.  Cat di dinding yang mulai memudar sebagai tanda luputnya pemeliharaan. Sangat memprihatinkan bukan?

Selain sebagai tempat olah raga, di tempat ini juga berjajar kios-kios buku. Baik buku baru ataupun buku lama. Penjual buku di sini selain menjual buku-buku baru juga lebih banyak menjual buku-buku lama. Menurut keterangan beberapa penggemar buku bahwa di  toko buku Velodrom banyak dijumpai buku-buku yang sangat lama yang tidak dijumpai di toko buku lainnya. Harganya pun sangat terjangkau.

Toko Buku Velodrome
Toko Buku Velodrome Malang

Velodrom juga menarik perhatian pengunjung dengan adanya Pasar Minggu. Sama dengan namanya maka pasar ini hanya digelar pada Hari Minggu. Berbagai macam kuliner makanan bisa dijumpai di sini. Berbagai macam pernak-pernik aksesoris ataupun berbagai model baju juga bisa kita beli. Tinggal kita melihat kondisi keuangan yang ada di kantong. 

Penutup

Itulah sekelumit ulasan ayodolenrek tentang Hutan Kota Velodrom yang menjadi kebanggaan warga Malang tetapi juga menjadi kisah sedih karena luput dari pemantauan pihak-pihak terkait sehingga membuat Velodrom ini menjadi tempat yang tersisihkan pemeliharaannya.

Malang,30052018
Ulik Maula 






Benteng Fort Rotterdam, Objek Wisata Sejarah di Makassar, Sulawesi Selatan

Benteng Fort Rotterdam, Objek Wisata Sejarah di Makassar, Sulawesi Selatan – Saat berkunjung ke Makassar, rasanya kurang lengkap jika belum mendatangi Benteng Rotterdam, benteng yang menjadi saksi sejarah pada masa lampau. Benteng Rotterdam juga disebut sebagai Benteng Payyua atau Benteng Penyu karena bentuknya mirip Penyu dan filosofinya yang merupakan hewan Ampibi, dapat hidup di darat dan di laut. Sama halnya dengan kerajaan Gowa yang jaya di darat maupun di laut.

Kali ini ayodolenrek, mengulas perjalanan wisata yang dilakukan oleh Susilowati bersama rekan kerjanya saat melakukan perjalanan dinas ke kota Makassar, tepatnya pada tanggal 31 Oktober 2014. Memang sudah cukup lama, tapi untuk menambah kazanah travelling website ayodolenrek, tidak menjadi masalah.

Benteng Fort Rotterdam, Objek Wisata Sejarah di Makassar, Sulawesi Selatan


Menurut para traveller, Benteng Fort Rotterdam merupakan salah satu bangunan bersejarah  di Makassar, Sulawesi Selatan yang dianggap megah dan menawan. Sehingga bangunan bersejarah di Makassar ini dijuluki sebagai “the best preserved Dutch in Asia” oleh wartawan New York Times, Barbara Crossette.

Sebelum bernama Fort Rotterdam, bangunan ini disebut Benteng Jumpandang  atau Ujung Pandang yang digunakan oleh Kesultanan Gowa sebagai tempat pertahanan atau perlindungan dari serangan musuh. 

Benteng Fort Rotterdam, Objek Wisata Sejarah di Makassar, Sulawesi Selatan


Terdapat 17 benteng pertahanan yang dimiliki oleh Kerajaan Gowa yang tersebar mengelilingi seluruh wilayah ibukota kerajaan. Diantara semua benteng tersebut, hanya benteng Ujung Pandang yang memiliki bangunan paling megah dan terjaga keasliannya hingga sekarang.

Untuk lebih mengenal objek wisata sejarah ini, mari kita ikuti ulasan tentang berbagai hal mengenai Benteng Rotterdam di Makassar ini.

Sejarah Benteng Fort Rotterdam

Benteng Rotterdam adalah bangunan bersejarah di Sulawesi Selatan yang dianggap paling megah dan menawan dan merupakan benteng peninggalan Kesultanan Gowa Tallo, yang pernah mengalami masa kejayaan pada abad ke-17 dengan ibu kota Makassar. 

Pada tahun 1545, Raja Gowa ke-IX bernama Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung atau Karaeng Tunipalangga Ulaweng membangun benteng ini dengan bahan campuran batu dan dan tanah liat yang dibakar hingga kering. Sedangkan desain arsitekturnya meniru gaya benteng buatan Portugis dengan bentuk segi empat.

Kemudian Sultan Gowa ke-XIV yaitu I Mangerangi Daeng Manrabbia bergelar Sultan Alauddin, pada tanggal 9 Agustus 1634, membuat dinding tembok dengan batu padas hitam yang didatangkan dari daerah Maros. Lalu pembangunan dilanjutkan pada tanggal 23 Juni 1635, berupa dinding tembok kedua dekat pintu gerbang.

Pada masa penjajahan, antara tahun 1655 hingga 1669, Benteng Rotterdam pernah mengalami kehancuran ketika Belanda menyerang Kesultanan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin. Tujuan dari serbuan Belanda ini adalah untuk menguasai jalur perdagangan rempah rempah dan memperluas sayap kekuasaan mereka sekaligus membuka jalur perdagangan ke Banda dan Maluku.

Kala itu, pasukan Belanda dipimpin oleh Gubernur Jendral Admiral Cornelis Janszoon Speelman. Belanda menyerang Kesultanan Gowa hampir setahun lamanya, akibatnya Kesultanan Gowa kalah dan sebagian benteng hancur. Dan, karena kekalahan ini, Sultan Gowa dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667.

Kemudian, saat Belanda berkuasa dengan pimpinan Gubernur Jendral Speelman, membangun kembali benteng yang telah hancur menerapkan model arsitektur Belanda. Sehingga bentuk benteng yang awalnya berupa segi empat berubah menjadi seperti Penyu dengan empat bastion, ditambahkan satu bastion lagi di sisi barat. 

Gubernur Jendral Speelman memberi nama benteng ini  Fort Rotterdam, seperti nama dari tempat kelahirannya di Belanda. Sejak dikuasai Belanda, Benteng Ujung Pandang ini digunakan sebagai pusat perdagangan, penimbunan hasil bumi dan rempah rempah serta sebagai pusat pemerintahan Belanda di wilayah Timur Nusantara.


Benteng Fort Rotterdam Sebagi Objek Wisata Sejarah

Sebagai pusat pemerintahan Belanda di wilayah Timur, Benteng Rotterdam  memiliki banyak peran dan fungsi. Selain sebagai pusat pemerintahan, basis pertahanan Belanda dan pusat perniagaan, Benteng Penyu ini juga merupakan tempat tahanan terakhir bagi Pangeran Diponegoro. 

Namun saat ini, fungsi Benteng Ujung Pandang ini telah berubah menjadi objek wisata sejarah dan pusat kebudayaan Pemerintah daerah Sulawesi Selatan.

Sebagai objek wisata sejarah, isi peninggalan Benteng Rotterdam antara lain adalah bangunan dan reruntuhan benteng, tempat tahanan dan makam Pangeran Diponegoro serta Museum La Galigo. Sehingga, saat berkunjung ke objek wisata sejarah ini, selain Benteng Rotterdam, kita juga dapat melihat objek-objek sejarah lainnya.

Ruang Tahanan Dan Makam Pangeran Diponegoro

Seperti kita ketahui dalam catatan sejarah, Perang Diponegoro yang berlangsung antara tahun 1825 hingga 1830 berakhir dengan dijebaknya Pangeran Diponegoro oleh Belanda saat mengikuti perundingan damai. Kemudian, Pangeran Diponegoro ditangkap lalu dibuang ke Menado, lantas tahun 1834 dipindahkan ke benteng Fort Rotterdam.

Sel Tahanan Pangeran Diponegoro
Sel Tahanan Pangeran Diponegoro

Ruang Tahanan Pangeran Diponegoro
Ruang Pengasingan Pangeran Diponegoro

Di Benteng Penyu ini pula, Pangeran Diponegoro mangkat dan dimakamkan ditempat ini bersama istri tercintanya.

Pintu Gerbang Makam Pangeran Diponegoro
Pintu Gerbang Makam Pangeran Diponegoro

Makam Pangeran Diponegoro
Makam Pangeran Diponegoro

Makam Istri Pangeran Diponegoro
Makam Istri Pangeran Diponegoro

Museum La Galigo

Kini, di kompleks Benteng Ujung Pandang terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai peninggalan sejarah kebesaran Makassar atau Gowa-Tallo dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. 

Museum La Galigo
Susi dkk di Museum La Galigo

Ruang Lukisan Museum La Galigo
Ruang Lukisan Museum La Galigo

Museum La Galigo
Teman-teman Susi di Musem La Galigo

Museum La Galigo menyimpan kurang lebih 4.999 koleksi seperti koleksi prasejarah, numismatic, keramik asing, sejarah, naskah, dan etnografi. 

Konon menurut masyarakat Sulawesi Selatan, Benteng Rotterdam merupakan tempat yang angker dan penuh dengan misteri. Hal ini cukup beralasan mengingat bangunan bersejarah ini sudah berdiri ratusan tahun yang lalu dan sudah banyak jiwa-jiwa yang melayang akibat pertempuran di tempat ini.

Penutup

Itulah ulasan ayodolenrek tentang perjalanan wisata Susilowati bersama rekan kerjanya ke Benteng Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan. Sambil menyelam minum air, itulah yang dilakukan wanita hitam manis ini. Setelah menyelesaikan pekerjaan dinasnya, ia bersama rekan-rekan kerjanya mengisi hari luangnya dengan mengunjungi objek-objek wisata terdekat.

Salah satunya adalah Benteng Fort Rotterdam.

Harapannya, informasi ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca tentang objek-objek wisata di Indonesia.

Semoga Bermanfaat..

Tahwa Mas Agus Buka Cabang Baru di PBI Malang

Tahwa Mas Agus Buka Cabang Baru di PBI Malang – Tepat pada hari Jum’at, tanggal 18 Mei 2018, Mas Agus, pengusaha tahwa kota Malang, membuka cabang baru di Perumahan Pondok Blimbing Indah atau PBI Blok P1 No. 02, Kota Malang. Kedai barunya ini tepat berada di jalan poros Araya sehingga memudahkan para pecinta minuman hangat dan lembut ini untuk menikmatinya sambil melihat pepohonan yang rindang sepanjang poros jalan.

Tahwa Mas Agus Buka Cabang Baru di PBI Malang
Cabang Baru Tahwa Mas Agus
PBI Blok P1 No. 02

Banyak keluhan dari pelanggannya yang tidak kebagian atau kehabisan saat berkunjung ke Warung Tahwa Mas Agus yang ada di Jalan Aris Munandar, Malang. Sehingga, Mas Agus berinisiatif untuk menjemput bola sekaligus melakukan ekspansi bisnis tahwanya dengan membuka cabang baru di PBI ini.

Tahwa Mas Agus Buka Cabang Baru di PBI Malang
Kedai Baru Tahwa Mas Agus
Tepat di Poros jalan Araya
Pada minggu pertama pembukaan kedai tahwanya, sebagai promosi dan perkenalan, Mas Agus melayani sendiri para pelanggannya yang rata-rata sudah mengenal sosok nyentrik maupun sudah merasakan kelezatan citarasa tahwa bikinannya.

Penulis sendiri datang atas undangannya sekaligus silaturahmi mengingat sudah cukup lama kami tidak bertemu semenjak berjualan durian sama-sama. Dan, tidak ketinggalan mencicipi tahwa buatannya setelah sejak sore hari hujan turun membasahi kota Malang.

Mas Agus dan Penulis
Mas Agus dan Penulis
Sebaiknya anda baca juga tentang perjuangan keras Mas Agus dalam merintis usahanya mulai dari nol hingga seperti sekarang ini.

Perjuangan Agus Karyadi Dibalik Keberhasilan Tahwa Mas Agus
Ketika merintis usaha Tahwanya, Mas Agus harus jatuh bangun terlebih dahulu sebelum akhirnya menemukan ramuan yang tepat bagi usahanya ini.

Saat merasakan kelembutan tahwa dan hangatnya air jahe yang meluncur ke tenggorokan sesuap demi sesuap, badan terasa hangat dan semakin lama semakin panas dan berkeringat sehingga tubuh terasa segar. 

Citarasa tahwanya tidak berubah sama sekali, sama persis seperti yang ada di Aris Munandar atau ditempat lain. Sepertinya, Mas Agus sudah mendapatkan citarasa standard bagi hasil olahannya tersebut.

Kedai Tahwa Mas Agus
Suasana malam hari di Kedai Tahwa Mas Agus
pada hari pertama

Sehingga bagi para pecinta minuman hangat seperti Tahwa, Angsle, Ronde dan Kacang Kuah, jangan ragu dan bimbang, semua yang ada di kedai baru ini, sama persis dengan apa yang ada di kedai Mas Agus, Jalan Aris Munandar. 

Berikut ini adalah menu pilihan di kedai baru Tahwa Mas Agus.
  1. Tahwa Rp. 6.000
  2. Ronde Rp. 7.000
  3. Angsle Rp. 8.000
  4. Kacang Kuah Rp. 7.000

Satu harga yang murah dengan citarasa mewah.

Selain itu, Mas Agus juga melayani pesan antar bagi anda yang ingin menikmati Tahwa untuk berbuka puasa, ulang tahun, reuni atau acara kebersamaan lainnya dengan menghubungi nomer berikut ini, 0818 0500 4412 atau 0821 1777 5542.

Rasanya akan berbeda jika acara kebersamaan anda sambil menikmati minuman hangat Mas Agus. Suasana keakraban akan menjadi semakin hangat.


Safari Perjalanan Wisata Susilowati Ke Malaysia : Batu Caves

Safari Perjalanan Wisata Susilowati Ke Malaysia : Batu Caves – Salah satu objek wisata yang dikunjungi oleh Susilowati dan rombongan adalah Batu Caves atau Gua Batu. Batu Caves merupakan sebuah bukit kapur yang didalamnya terdapat gua-gua dan kuil, terletak di distrik Gombak, Selangor, Malaysia.

Jika di Indonesia kita memiliki objek wisata yang hampir sama seperti Gua Lawa Purbalingga, Gua Lawa Trenggalek dan gua-gua lainnya di perbukitan kapur yang tersebar di wilayah Indonesia. Batu Caves ini memiliki keistimewaan dimana di dalamnya terdapat satu kuil Hindu di luar Negara India yang paling populer, dan didedikasikan untuk Dewa Murugan.

Safari Perjalanan Wisata Susilowati Ke Malaysia : Batu Caves
Andini di Batu Caves, Selangor, Malaysia

Selain sebagai objek wisata, Batu Caves juga merupakan titik fokus festival Hindu Thaipusam di Malaysia.

Susi dan rombongan merasa kagum melihat keindahan Batu Caves ini. Begitu indah dan dikelolah dengan professional termasuk penataan ruang dan penempatan patung-patung serta pencahayaan ruangan yang bagus. Gua alami ini telah diubah menjadi objek wisata yang professional tanpa menghilangkan unsur-unsur alamnya.

Untuk lebih mengenal objek wisata gua batu yang ada di distrik Gombak, Selangor, Malaysia ini, mari kita lihat sejarahnya berdasarkan sumber yang dikutip dari Wikipedia.

Sejarah Batu Caves

Batu Caves terbentuk dari bebatuan kapur yang berumur kurang lebih 400 juta tahun. Pada beberapa pintu masuk gua digunakan sebagai tempat penampungan bagi masyarakat adat atau masyarakat asli daerah tersebut.

Seperti pada umumnya sebuah gua, Batu Caves juga menjadi sarang bagi kelelawar sehingga pada awal tahun 1860, para pemukim dari Tiongkok mulai menggali guano atau kotoran Kelelawar sebagai bahan pupuk sayuran mereka. 

Pada tahun 1878, pemerintah kolonial termasuk Daly dan Syers serta naturalis Amerika, William Hornaday menemukan dan mencatat keberadaan Batu Caves ini sehingga objek wisata ini menjadi terkenal.

Setelah itu, Batu Caves dipromosikan sebagai tempat ibadah yang didirikan oleh K. Thamboosamy Pillai, seorang pedagang dari India. Pedagang India ini terinspirasi oleh pintu masuk gua utama berbentuk "Vel" kemudian berkeinginan untuk membangun kuil di dalam gua tersebut yang didedikasikan untuk Dewa Murugan.

Andini dan Patung Dewa Murugan
Andini dengan latar Dewa Murugan

Pillai, yang juga merupakan pendiri  Kuil Sri Mahamariamman, pada thun 1890 membangun murti (patung yang dikuduskan) dari Sri Subramania Swamy yang sekarang dikenal sebagai Gua Kuil (Temple Caves). 

Lalu, semenjak tahun 1892, festival Thaipusam di bulan Tamil, Thai (yang jatuh pada akhir Januari/awal Februari) telah dirayakan di tempat ini.

Keberadaan tangga kayu, mulai dari pintu masuk hingga ke Gua Kuil dibangun pada tahun 1920 dan sekarang telah diganti dengan 272 anak tangga terbuat dari beton. Dari begitu banyaknya gua kuil yang ada di Batu Caves, hanya ada satu gua yang paling besar dan paling terkenal yaitu Temple Caves, disebut demikian karena gua ini menaungi beberapa kuil Hindu di bawah langit-langit berkubah

Pembangunan Batu Caves

Setelah perombakan di dalam Batu Caves, pembangunan dilakukan untuk menambah daya tarik objek wisata ini berupa patung Murugan, Dewa agama Hindu, setinggi 42.7 m (140 ft), merupakan patung Murugan tertinggi di dunia, yang terletak di luar Batu Caves.

Susi dan Andini berfoto dengan latar Dewa Murugan
Susi dan Andini berfoto dengan latar Dewa Murugan

Nilai dari patung yang berdiri dengan megah ini sekitar 24 juta Rupee, yang terbuat dari 1550 meter kubik beton, 250 ton bar baja dan balutan 300 liter cat emas yang didatangkan dari Thailand.

Kemudian kawasan sekeliling batu Caves dibangun perumahan-perumahan dimulai sejak tahun 1970 antara lain adalah perumahan Taman Batu Caves, Taman Selayang, Taman Amaniah, Taman Sri Selayang, dan Taman Medan Batu Caves.

Sehingga, Batu Caves dan lingkungan di sekitarnya berubah menjadi satu kawasan industri dan perumahan baru dengan toko-toko dan jembatan layang yang menghubungkan ke jalan raya. 

Kemudian dibangun juga, sebuah rel ekstensi KTM Komuter baru senilai 515 juta Ringgit mulai dari kawasan Sentul menuju Batu Caves dan telah dioperasikan pada bulan Juli 2010 selanjutnya Stasiun komuter Batu Caves juga telah dibuka

Situs Religious Batu Caves

Kompleks objek wisata Batu Caves berdiri hampir 100 m di atas tanah, terdiri dari tiga gua utama dan beberapa gua yang lebih kecil. Dimana, gua terbesar, disebut sebagai Gua Katedral atau Gua Kuil (Temple Caves) yang memiliki tinggi 100 m dan langit-langit berhiaskan ukiran elemen Hindu. Sehingga untuk mencapainya, pengunjung harus mendaki 272 anak tangga yang curam.

Tangga Batu Caves
Andini di dalam Gua Batu Caves

Lalu, di dasar bukit terdapat dua gua kuil yaitu Gua Galeri Seni dan Museum Gua, yang berisikan patung-patung dan lukisan Hindu. Kemudian kompleks Batu Caves  ini direnovasi dan dibuka sebagai Vila Gua (Cave Villa) pada tahun 2008. 

Gua Batu Caves
Andini di dalam Gua Batu Caves

Lukisan dan patung-patung yang terdapat di dalam kuil lebih banyak menceritakan kisah kemenangan Dewa Murugan atas iblis Soorapadam. Untuk menikmati kunjungan di Batu Caves ini, pengelolah menyediakan tur audio untuk pengunjung.


Monyet Ekor Panjang Di Batu Caves

Selain kuil-kuil, di Batu Caves terdapat gua-gua yang masih alami yang memiliki beragam fauna di dalamnya, termasuk beberapa spesies unik, seperti laba-laba Liphistiidae dan Eonycteris serta kelelawar Rousettus

Hewan lain yang berada di situs ini adalah berbagai monyet ekor panjang, yang diberi makan oleh pengunjung  secara sukarela. Namun, monyet-monyet ini cukup berbahaya karena suka menggigit wisatawan (terutama anak kecil) karena mereka cukup teritoris.

Kemudian di bawah Gua Kuil terdapat sebuah Gua Gelap (Dark Caves), yang terdiri dari formasi batuan dan sejumlah hewan ditemukan di tempat tersebut. Gua ini merupakan rangkaian gua sepanjang dua kilometer dari gua-gua yang relatif tidak tersentuh. 

Sehingga dalam rangka mempertahankan ekologi gua, akses wisatawan ke daerah tersebut dibatasi. Namun, Malaysia Nature Society mengorganisir perjalanan untuk pendidikan dan petualangan secara reguler ke Gua Gelap tersebut.

Rute Perjalanan Menuju Batu Caves

Lokasi Batu Caves terletak 13 km dari ibukota Kuala Lumpur. Sehingga cara paling mudah untuk mencapai Batu Caves adalah dengan menggunakan kereta komuter dari stasiun komuter KL Sentral, dengan tarif 2 RM untuk satu kali perjalanan. 

Selain itu, Anda juga dapat menggunakan taksi, dengan tarif sekitar 20-25 RM dari KL Sentral (atau lebih). Pilihan lain untuk dapat mencapai Batu Caves adalah menggunakan Bus Terminus 11/11d dari Bangkok Bank (Dekat Terminus Puduraya) atau Bus U6 dari Titiwangsa.

Penutup

Demikian ulasan tentang objek wisata Batu Caves yang berada di distrik Gombak, Selangor, Malaysia.  Sumber utama dari artikel ini adalah perjalanan wisata Susilowati bersama putrinya saat berkunjung ke Malaysia.


Safari Perjalanan Wisata Susilowati Ke Malaysia : Pengantar

Safari Perjalanan Wisata Susilowati Ke Malaysia : Pengantar – Susilowati, sosok wanita hitam manis bertubuh mungil yang bekerja di Mahkamah Agung RI ini, ternyata telah menjelajahi hampir seluruh daerah di Indonesia dan beberapa tempat wisata di luar negeri.

Sama seperti Ratih, pada awalnya,  wanita penyuka pohon kaktus ini tidak mau mengatakan dan memberikan data-datanya, namun dengan alasan memperkaya kazanah wisata jalan-jalan di website www.ayodolenrek.com, akhirnya Susi mau memberikan data dan foto-foto perjalanan wisatanya secara bertahap.

Pertama kali yang diberikannya adalah foto dan data perjalanannya ke Malaysia bersama teman-teman kantor dan anak semata wayangnya, Andini.

Safari Perjalanan Wisata Susilowati Ke Malaysia : Pengantar

Pada bulan Juli 2014 bertepatan dengan liburan kenaikan kelas Andini, Susilowati bersama rombongan teman-teman kantornya dimana masing-masing membawa anaknya, mereka melakukan serangkaian perjalanan wisata ke Negeri Jiran, Malaysia.

Ada beberapa tempat wisata di Malaysia yang dikunjungi oleh Susilowati dan rombongan selama berada di negeri Mahathir Mohamad ini antara lain adalah :
  1. Genting Highland
  2. Putrajaya, Ibukota Pemerintahan Malaysia
  3. Istana Kerajaan Lama di Kuala Lumpur
  4. Batu Caves, Selangor, Malaysia
  5. I-City Shah Alam, Malaysia
Untuk  lebih mengenal tempat-tempat wisata di Malaysia maka penulis menyajikannya secara bertahap agar penjelasan dari masing-masing tempat wisata tersebut dapat diulas lebih detail sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang objek wisata di negeri Upin dan Ipin ini.

Sebagai pengantar, berikut ini adalah moda transportasi yang digunakan oleh Susilowati bersama rombongan saat berada di Malaysia yaitu kereta api dan Awana Skyway.

Jika menggunakan moda kereta api tentunya sudah menjadi hal biasa yang sering kita lakukan di Indonesia meskipun berbeda dalam sisi desain arsitektur stasiun kereta api, kebersihan dan kerapian keretanya. Namun, pada umumnya tetaplah sama mengingat jawatan KAI sedang berbenah ke arah yang lebih baik.

Stasiun Kereta Api
Andini di Train Station

Sedangkan jika menggunakan Gondola, kita dapat menggunakannya saat berkunjung ke TMII atau Taman Mini Indonesia Indah. Namun yang berbeda di Malaysia adalah adanya Gondola berlantai kaca. Sama-sama Gondola, namun berbeda rasanya jika menaiki Gondola berlantai kaca dimana pemandangan yang ada sekeliling dan dibawah kita akan terlihat dengan jelas.

Gondola
Susi dan Andini naik Gondola

Gondola Menuju Genting Highland
Gondola Menuju Genting Highland

Pastinya, akan memberikan sensasi yang berbeda, apalagi jika kita takut akan ketinggian.

Itulah ulasan safari perjalanan wisata Susilowati bersama rombongan termasuk Andini, anaknya, ke Malaysia.

Semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang objek-objek wisata di negeri  jiran, Malaysia.

Pasar Ramadhan Masjid An Noor, Kidul Pasar, Malang

Pasar Ramadhan Masjid An Noor, Kidul Pasar, Malang  - Hampir setiap tahun terutama pada bulan Ramadhan, sudah menjadi satu tradisi  saat menjelang berbuka puasa atau pada sore hari, banyak pedagang yang menjajakan aneka ragam kuliner atau takjil sebagai makanan pembuka. Kuliner seperti aneka kolak, es buah, jenang atau bubur sum-sum, bubur kacang ijo dan ketan hitam, kurma, aneka gorengan dan makanan tradisional lainnya.

Sehingga secara spontan terbentuk pasar-pasar Ramadhan di berbagai tempat. Dan, tempat yang paling ramai adalah yang berdekatan dengan masjid-masjid besar seperti terdapat di Masjid An Noor, Kidul Pasar, Malang. Kebetulan nara sumber berwisata kuliner di pasar Ramadhan Masjid An Noor ini.

Pasar Ramadhan Masjid An Noor, Kidul Pasar, Malang

Berbagai pedagang takjil berjejer rapi sepanjang jalan menuju masjid An Noor dengan meja berisi makanan atau minuman dan menggunakan payung warna warni sebagai tempat berteduh seperti terlihat pada gambar diatas.

Masjid AN Noor, Kidul Pasar, Malang
Masjid An Noor, Kidul Pasar, Malang

Dari beberapa pedagang takjil yang ada di Kidul Pasar ini, Pedagang yang paling laris dan banyak dikunjungi adalah pedagang Lumpur dan Bikang Imut karena langsung ditunjukkan cara pembuatannya dan disajikan masih hangat. Sehingga banyak pengunjung pasar Ramadhan yang penasaran lalu melihat-lihat sekaligus membeli bikang dan lumpur imut yang masih baru di panggang.

Aneka jajanan yang dijual di Pasar Ramadhan Masjid An Noor
Aneka jajanan yang dijual di Pasar Ramadhan Masjid An Noor

Bikang Mini Pasar Ramadhan Masjid An Noor
Bikang Mini Pasar Ramadhan Masjid An Noor

Selain itu, ada jenis kuliner baru yang menarik perhatian pengunjung pasar Ramadhan Kidul Pasar, Malang ini yaitu Es Kepal. Karena sedang trend maka banyak pedagang yang menjualnya dan peminatnya cukup ramai terutama anak-anak.

Es Kepal
Es Kepal

Pada umumnya, berjualan takjil pada bulan Ramadhan memiliki peluang yang menjanjikan meskipun hanya musimam saja. Tergantung pada citarasa, tampilan dan harga jualnya. 

Di Pasar Ramadhan Masjid An Noor, Kidul Pasar ini, harga takjil berkisar antara Rp. 500 hingga Rp. 2.500 sehingga apapun jenis makanannya akan dibeli oleh pengunjung apalagi jika terkenal seperti Lumpur dan Bikang Imut.

Pasar Ramadhan Masjid An Noor, Kidul Pasar, Malang


Itulah sekelumit ulasan tentang Pasar ramadhan Masjid An Noor, Kidul Pasar, Malang. Hasil penelusuran reporter www.ayodolenrek.blogspot.com , Fery Ferriansyah.

Semoga Bermanfaat



Perjalanan Agus Priono Dkk Mendaki Gunung Kelud

Perjalanan Agus Pri Mendaki Gunung Kelud – Aktifitas pendakian yang dilakukan oleh Agus Priyono semakin hari semakin meningkat. Sejak melakukan pemanasan bersama keluarga mengunjungi Coban Rais lalu bersama teman-teman mendaki Gunung Panderman maka pada tanggal 14 Mei 2018, ia mendaki Gunung Kelud lewat jalur pendakian desa Tulungrejo, Blitar.

Kali ini perjalanan wisata alam Agus Priono dilakukan bersama tiga orang teman kantor dari Bank BCA Malang yaitu Robi, Bagus dan Bayu. Mereka adalah mantan pecinta alam yang sekarang bergelut dengan kesibukan perbankan. Sehingga ketika ada waktu libur yang sama karena biasanya berbeda, maka kesempatan ini tidak mereka sia-siakan untuk mengenang dan mengulang kembali perjalanan mendaki gunung.

Perjalanan Agus Priono Dkk Mendaki Gunung Kelud

Bagi mereka dan para pecinta alam pada umumnya, kesempatan menikmati hembusan angin di alam terbuka, bau belerang, wangi bunga dan aroma tanah di hutan memberikan kepuasan batin tersendiri. Apalagi jika mampu menaklukkan puncak gunung dan sampai pada batas tertinggi dimana batasan antara bumi dan langit terasa begitu dekat, maka tidak dapat dibayangkan bagaimana rasanya.

Rasa syukur terhadap Sang Pencipta dan merasa dekat serta menyatu dengan alam semesta seolah memenuhi rongga jiwa.

Sensasi-sensasi itulah yang amat dirindukan oleh para pendaki gunung meskipun harus bersusah payah mencurahkan tenaga menapaki jalanan bebatuan, mendaki bukit demi bukit yang terjal dan menempuh perjalanan yang sangat lama dan jauh.

Sehingga fisik yang prima dan semangat yang kuat menjadi syarat utama bagi seorang pendaki gunung. Jika tidak, maka hanya akan sampai di lerengnya saja atau menjadi beban bagi kawan perjalanan. Tentunya, akan membuat perjalanan menjadi kurang menyenangkan.

Untungnya, keempat karyawan BCA Malang ini sudah mempersiapkan diri dengan matang baik fisik maupun mentalnya. Sehingga perjalanan Agus Priono dan kawan-kawan mendaki Gunung Kelud berjalan dengan lancar.

Baca Juga :

Perjalanan Agus Priono Dkk Mendaki Gunung Kelud

Memang banyak jalur pendakian menuju Gunung yang terkenal dengan legenda Mahesa Sura dan Lembu Sura ini, baik dari Kediri maupun Blitar, namun jalur yang dipilih Agus dkk adalah jalur pendakian melalui desa Tulungrejo, Blitar.

Jalur Pendakian Desa Tulungrejo, Blitar
Jalur Pendakian Desa Tulungrejo, Blitar

Untuk melakukan pendakian Gunung Kelud ini, masing-masing orang harus melakukan pendaftaran terlebih dahulu untuk mendapatkan Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi atau SIMAKSI. Dimana masing-masing pendaki dikenakan tarif sebesar Rp. 15.000 termasuk biaya ojek menuju gerbang pendakian.

Perjalanan Agus Priono Dkk Mendaki Gunung Kelud


Perjalanan dari basecamp gerbang pendakian, desa Tulungrejo menuju Pos pendakian I membutuhkan waktu sekitar 1 jam.  Dimulai dengan melewati jalanan sepanjang hutan pinus yang masih datar lalu melewati jalur menanjak di tengah hutan lebat hingga sampai ke sebuah gubug yang berfungsi sebagai Pos I pendakian gunung Kelud.

Perjalanan Agus Priono Dkk Mendaki Gunung Kelud
Agus Priono Mendaki Gunung Kelud

Lalu dari Pos I menuju Pos II dibutuhkan waktu  sekitar 30 menit, kemudian perjalanan dilanjutkan dari Pos II menuju Pos III yang membutuhkan waktu sekitar 1.30 jam.  Pos III merupakan tempat berkemah bagi para pendaki dengan suguhan pemandangan alam yang menjadi ciri khas Kelud. 

Agus Dkk Di Pos III Pendakian Gunung Kelud
Agus Dkk Di Pos III Pendakian Gunung Kelud

Dari Pos III ini, kita bisa melihat Gunung Buthak, Kawi, Panderman, Arjuna dan Welirang.

Jalanan terjal Menuju Puncak Kelud
Jalanan terjal Menuju Puncak Kelud

Dan, perjalanan akhir adalah dari pos III menuju puncak Kelud atau kawah yang membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Jalur menuju puncak dan kawah Kelud ini memiliki pemandangan alam yang sangat special. Salah satu jalur yang terkenal adalah jalur Punggung Naga, bagian dari puncak Gunung Kelud yang bentuknya memang mirip punggung seekor naga dan merupakan batas vegetasi terakhir.

Istirahat di lereng Gunung Kelud
Agus dkk Istirahat di lereng Gunung Kelud

Kemudian setelah melewati jalur punggung naga, jalur perjalanan berubah menjadi sedikit curam dan berbatu. Kurang lebih satu jam perjalanan, kita akan sampai di persimpangan antara jalur menuju puncak dan kawah Kelud. Apabila ingin menuju ke puncak Gunung Kelud kita ambil jalur sebelah kiri, sedangkan jika menuju ke kawah ambil jalur ke kanan.

Puncak Gunung Kelud
Puncak Gunung Kelud

Kawah Gunung Kelud
Agus Priono dkk di Kawah Gunung Kelud

Maka, perjalanan Agus Priono dkk sampai pada titik akhir. Setelah puas menikmati pemandangan alam dan suasana puncak maka Agus dkk melanjutkan untuk turun. Sedangkan perjalanan turun membutuhkan waktu separuh dari perjalanan naik menuju puncak Kelud.

Berikut ini adalah beberapa video rekaman perjalanan Agus Priono dan kawan-kawan saat melakukan pendakian Gunung yang penuh legenda ini dengan durasi 1-3 menit.


  

Penutup

Itulah perjalanan Agus Priono dan teman-temannya dari kantor BCA Malang saat mengisi hari libur dengan mendaki Gunung Kelud.

Semoga bermanfaat..







China Old And Now Dalam Perspektif Ali smanda88

China Old And Now Dalam Perspektif Ali smanda88 – Setelah mengadakan perjalanan bisnis ke Singapura, Ali, alumni smanda88 yang berprofesi sebagai konsultan produksi, melanjutkan perjalanan ke negeri tirai bambu, China.

Ali di Liao Guihe Park
Ali di Liao Guihe Park
Setelah tugasnya selesai, ia mencoba menjelajah negeri China dan mengamati perkembangan yang terjadi di negeri Jet Li tersebut. Berikut ini adalah ulasan Ali tentang negeri Tirai Bambu.


China Old And Now Dalam Perspektif Ali

Ketika menjejakkan kaki untuk kedua kalinya di bumi China, 29 maret 2018, aku tertegun, karena begitu jauh sekali perbedaannya  antara China jaman now dibandingkan saat 20 tahun lalu ketika baru pertama kalinya aku menjejakkan kaki disana. Saat itu hanya Hongkong dan Macau yang setara dengan kota besar di negara - negara Asia yang sudah maju, seperti Korea Selatan dan Jepang.

China Old And Now Dalam Perspektif Ali smanda88
Zodiac Statue, Beijing Road Guangzhao

‎Sekarang akses jalan tol membentang mulus, menghubungkan satu daerah dengan daerah yang lain hingga pelosok-pelosok negeri. Di kanan-kiri pembatas jalan berjajar im hwa (sakura) dengan bunganya yang indah beraneka ragam memanjakan mataku.
Saat 20 tahun lalu, pertama kali datang kesana, kita seperti loupan betul-betul di istimewakan (padahal aku cuman kuli he he he...) dijemput dengan mobil VW yang waktu itu di Indonesia kelasnya biasa, tapi sekarang kita disana sudah seperti orang pada  umumnya,  dan saya tidak minder karena masih tetap jadi kuli seperti 20 tahun lalu he he he, yang merasa berubah adalah loupan saya.

China Old And Now Dalam Perspektif Ali smanda88
Restoran Lombok Indonesia di Beijing Road
menyediakan makanan khas Indonesia
Ada satu hal yang membuat saya seperti "wong desit" dan hal ini baru saya sadari saat hari ketujuh. Sebelumnya saking ketatnya jadwal kerja disana, saya tidak memperhatikannya karena ada partner di Cina yang menghandle semuanya.

Hari ketujuh pagi, saat saya pergi ke pusat pertokoan elektronik di Guangzhou, setelah tawar menawar dengan bahasa setengah tarzanan di sepakati harganya 2500 RMB, saya bayarkan 25 lembar uang 100 RMB. 

Si penjual menerima uang pembayaran, dihitung, di elus-elus dan di bolak balik diterawang, lalu dihitung lagi, dielus elus, dibolak balik diterawang sampai beberapa kali. Dan sepertinya tidak yakin dengan pengecekan yang dia lakukan, dia serahkan ke rekannya, ajaibnya sang teman juga melakukan pengecekan yang sama, juga sampai beberapa kali.

Dalam hati saya berpikir apakah orang orang ini sudah lupa dengan uang mereka sendiri. Wallahu a'lam..
Sehabis beli peralatan elektronik, saya pingin keliling kota Guangzhou dengan City Bus. Dan dengan bahasa setengah tarzan andalan, kita tanya ongkosnya ke sopir. 

Maket kerajaan Dinasti Qing
yang ditemukan saat pembangunan kawasan Beijing Road

Ongkos naik bis 2 RMB perorang. Saya cuman bawa uang pecahan terkecil 10 RMB,  celakanya karena tidak ada penumpang lain yang membayar dengan uang tunai sehingga tidak ada kembaliannya. Akhirnya saya bayarlah 10 RMB.
Saat mau pulang balik ke hotel, saya beli french fries dan secangkir kopi, dan kembali saya orang terdesit yang ada disitu. Ternyata hanya saya yang membayar dengan uang tunai. 

China Old And Now Dalam Perspektif Ali smanda88
Ali di Beijing Road

Semua pembeli yang lain menggunakan aplikasi WeChat di smartphone mereka untuk melakukan pembayaran, dengan cara menempelkan layar smartphone ke barcode pemilik toko atau resto. Baru saya sadari kenapa Mr. Raymond Chen, partner saya di China, tidak pernah mengeluarkan dompetnya. Saya pikir dia tidak punya dompet he he he.
Hari kedelapan, hari terakhir saya di China, jam 8 pagi saya keluar dari Guangyong Lido Hotel untuk berburu handycraft menuju Beijing Road, kawasan perbelanjaan dan kuliner favorite di Guangzhou

Dengan berbekal beberapa lembar uang USD dan uang 100 ribuan Rupiah, saya menyusuri jalan mencari money changer sampai beberapa kilometer. Tidak seperti beberapa negara yang pernah saya kunjungi seperti Korea Selatan, Arab Saudi atau Singapura begitu mudahnya mencari money changer, bahkan di Arab Saudi mata uang Rupiah bisa untuk transaksi. Setelah berjalan cukup jauh dan hasilnya nihil. Tidak saya temukan money changer.  

Akhirnya saya berpikir pakai Visa Card saja. Simpel.

China Old And Now Dalam Perspektif Ali smanda88
Beijing Road

Sampai di Beijing Road sekitar jam 9 pagi hanya beberapa toko saja yang sudah buka dan tradisi disana untuk kios dipasar baru buka jam 1 siang dan hebatnya lagi tidak ada mesin aplikasi Visa Card, maka sayapun tidak bisa belanja handycraft. Akhirnya dengan berat hati saya kembali ke hotel untuk check out dan dengan taksi meluncur ke Baiyun International Airport untuk kembali pulang ke Indonesia.
Itulah perjalanan Ali, konsultan produksi alumni smanda88, yang melakukan perjalanan bisnis sekaligus wisata ke negeri China.


Semoga bermanfaat…