Home » » China Old And Now Dalam Perspektif Ali smanda88

China Old And Now Dalam Perspektif Ali smanda88

China Old And Now Dalam Perspektif Ali smanda88 – Setelah mengadakan perjalanan bisnis ke Singapura, Ali, alumni smanda88 yang berprofesi sebagai konsultan produksi, melanjutkan perjalanan ke negeri tirai bambu, China.

Ali di Liao Guihe Park
Ali di Liao Guihe Park
Setelah tugasnya selesai, ia mencoba menjelajah negeri China dan mengamati perkembangan yang terjadi di negeri Jet Li tersebut. Berikut ini adalah ulasan Ali tentang negeri Tirai Bambu.


China Old And Now Dalam Perspektif Ali

Ketika menjejakkan kaki untuk kedua kalinya di bumi China, 29 maret 2018, aku tertegun, karena begitu jauh sekali perbedaannya  antara China jaman now dibandingkan saat 20 tahun lalu ketika baru pertama kalinya aku menjejakkan kaki disana. Saat itu hanya Hongkong dan Macau yang setara dengan kota besar di negara - negara Asia yang sudah maju, seperti Korea Selatan dan Jepang.

China Old And Now Dalam Perspektif Ali smanda88
Zodiac Statue, Beijing Road Guangzhao

‎Sekarang akses jalan tol membentang mulus, menghubungkan satu daerah dengan daerah yang lain hingga pelosok-pelosok negeri. Di kanan-kiri pembatas jalan berjajar im hwa (sakura) dengan bunganya yang indah beraneka ragam memanjakan mataku.
Saat 20 tahun lalu, pertama kali datang kesana, kita seperti loupan betul-betul di istimewakan (padahal aku cuman kuli he he he...) dijemput dengan mobil VW yang waktu itu di Indonesia kelasnya biasa, tapi sekarang kita disana sudah seperti orang pada  umumnya,  dan saya tidak minder karena masih tetap jadi kuli seperti 20 tahun lalu he he he, yang merasa berubah adalah loupan saya.

China Old And Now Dalam Perspektif Ali smanda88
Restoran Lombok Indonesia di Beijing Road
menyediakan makanan khas Indonesia
Ada satu hal yang membuat saya seperti "wong desit" dan hal ini baru saya sadari saat hari ketujuh. Sebelumnya saking ketatnya jadwal kerja disana, saya tidak memperhatikannya karena ada partner di Cina yang menghandle semuanya.

Hari ketujuh pagi, saat saya pergi ke pusat pertokoan elektronik di Guangzhou, setelah tawar menawar dengan bahasa setengah tarzanan di sepakati harganya 2500 RMB, saya bayarkan 25 lembar uang 100 RMB. 

Si penjual menerima uang pembayaran, dihitung, di elus-elus dan di bolak balik diterawang, lalu dihitung lagi, dielus elus, dibolak balik diterawang sampai beberapa kali. Dan sepertinya tidak yakin dengan pengecekan yang dia lakukan, dia serahkan ke rekannya, ajaibnya sang teman juga melakukan pengecekan yang sama, juga sampai beberapa kali.

Dalam hati saya berpikir apakah orang orang ini sudah lupa dengan uang mereka sendiri. Wallahu a'lam..
Sehabis beli peralatan elektronik, saya pingin keliling kota Guangzhou dengan City Bus. Dan dengan bahasa setengah tarzan andalan, kita tanya ongkosnya ke sopir. 

Maket kerajaan Dinasti Qing
yang ditemukan saat pembangunan kawasan Beijing Road

Ongkos naik bis 2 RMB perorang. Saya cuman bawa uang pecahan terkecil 10 RMB,  celakanya karena tidak ada penumpang lain yang membayar dengan uang tunai sehingga tidak ada kembaliannya. Akhirnya saya bayarlah 10 RMB.
Saat mau pulang balik ke hotel, saya beli french fries dan secangkir kopi, dan kembali saya orang terdesit yang ada disitu. Ternyata hanya saya yang membayar dengan uang tunai. 

China Old And Now Dalam Perspektif Ali smanda88
Ali di Beijing Road

Semua pembeli yang lain menggunakan aplikasi WeChat di smartphone mereka untuk melakukan pembayaran, dengan cara menempelkan layar smartphone ke barcode pemilik toko atau resto. Baru saya sadari kenapa Mr. Raymond Chen, partner saya di China, tidak pernah mengeluarkan dompetnya. Saya pikir dia tidak punya dompet he he he.
Hari kedelapan, hari terakhir saya di China, jam 8 pagi saya keluar dari Guangyong Lido Hotel untuk berburu handycraft menuju Beijing Road, kawasan perbelanjaan dan kuliner favorite di Guangzhou

Dengan berbekal beberapa lembar uang USD dan uang 100 ribuan Rupiah, saya menyusuri jalan mencari money changer sampai beberapa kilometer. Tidak seperti beberapa negara yang pernah saya kunjungi seperti Korea Selatan, Arab Saudi atau Singapura begitu mudahnya mencari money changer, bahkan di Arab Saudi mata uang Rupiah bisa untuk transaksi. Setelah berjalan cukup jauh dan hasilnya nihil. Tidak saya temukan money changer.  

Akhirnya saya berpikir pakai Visa Card saja. Simpel.

China Old And Now Dalam Perspektif Ali smanda88
Beijing Road

Sampai di Beijing Road sekitar jam 9 pagi hanya beberapa toko saja yang sudah buka dan tradisi disana untuk kios dipasar baru buka jam 1 siang dan hebatnya lagi tidak ada mesin aplikasi Visa Card, maka sayapun tidak bisa belanja handycraft. Akhirnya dengan berat hati saya kembali ke hotel untuk check out dan dengan taksi meluncur ke Baiyun International Airport untuk kembali pulang ke Indonesia.
Itulah perjalanan Ali, konsultan produksi alumni smanda88, yang melakukan perjalanan bisnis sekaligus wisata ke negeri China.


Semoga bermanfaat…

0 comments:

Post a Comment