Home » » Monumen Simpang Lima Gumul, Ikon Kebanggaan Kediri

Monumen Simpang Lima Gumul, Ikon Kebanggaan Kediri

Monumen Simpang Lima Gumul, Ikon Kebanggaan Kediri – Monumen yang dibangun pada tahun 2003 yang lalu dinamakan Monumen Simpang Lima Gumul merupakan ikon wisata kebanggaan masyarakat Kediri. Selain untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Kediri, monument ini juga merupakan amanat dari Raja Joyoboyo yang memerintah Kerajaan Kediri pada abad XII.

Seorang Raja dan Pujangga terkenal yang menciptakan Jangka Joyoboyo, ramalan tentang masa depan Indonesia. 

Monumen ini disebut Simpang Lima Gumul atau disingkat SLG mengandung makna ketika Raja Jayabaya ingin menyatukan 5 daerah yang berada di Kabupaten Kediri. Dan secara fisik, monument ini memang berada di pusat dari lima persimpangan yang mengarah ke Kota Kediri, Pesantren, Pagu, Gurah, dan Pare.

Monumen Simpang Lima Gumul, Ikon Kebanggaan Kediri
Monumen Simpang Lima Gumul, Ikon Kebanggaan Kediri
Gambar : wiranews.com

Dari sisi arsitektur, bentuk monument SLG ini mirip dengan monument L’Arc de Triomphe yang berada di kota Paris. Sehingga keberadaan monument Simpang Lima Gumul ini sedikit dapat mengobati kerinduan traveller yang belum sempat berkunjung ke Paris.

Perjalanan ayodolenrek kali ini mengunjungi objek wisata yang menjadi ikon Kediri dengan nara sumber Ulik Maula, guru SMPN 12 Malang yang gemar travelling. Nah, untuk mengetahui lebih jauh tentang monument Simpang Lima Gumul ini, mari ikuti ulasan berikut ini.

Serba-serbi Simpang Lima Gumul, Kediri

Sejarah Simpang Lima Gumul, Kediri

Pada masa lalu, Kediri atau Kadiri memiliki hubungan yang erat dengan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa Timur. Sebelum berdirinya Singhasari, Kediri adalah kerajaan besar yang memiliki wilayah kekuasaan cukup luas termasuk Tumapel, sebuah kadipaten yang menjadi cikal bakal kerajaan Singhasari.

Dan, raja Kediri yang paling terkenal adalah Jayabaya atau Joyoboyo. Pada masa kejayaannya banyak karya sastra yang diciptakan seperti Kakawin Arjuna Wiwaha dan lain-lain. Namun, yang masih dikenang hingga sekarang adalah ramalan Jayabaya atau Jangka Joyoboyo, suatu ramalan jauh sebelum kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Nah, untuk mengenang kebesaran Raja Jayabaya inilah Bapak Sutrisno, saat itu menjabat sebagai Bupati Kediri, pada tahun 2003 mendirikan Monumen Simpang Lima Gumul ini.

Sebagai pengingat, Kerajaan Kediri juga merupakan asal-usul dari cerita Panji Kelana atau Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji dalam kisah “Ande-ande Lumut”. Saking populernya, pada masa itu, kisah petualangan Panji ini menyebar hingga ke berbagai daerah di Indonesia bahkan sampai ke negeri Thailand dan Vietnam.

Budaya Panji
Budaya Panji
Gambar : budayapanji.com

Pada tanggal 2 Juli 2018, di Taman Krida Budaya, Malang, diselenggarakan Festival Panji Nusantara yang diselenggarakan oleh Pusat Konservasi Budaya Panji yang di ketuai oleh Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, mantan menteri pendidikan Indonesia bekerjasama dengan Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata.

Spesifikasi Fisik Monumen Simpang Lima Gumul

Sebagai sebuah prasasti, bangunan monument SLG mengandung angka-angka yang menunjukkan tanggal hari jadi kota Kediri yang terdapat pada tinggi, luas dan jumlah sarana dari Monumen Simpang Lima Gumul yaitu :

  • Tinggi Bangunan : 6 Meter
  • Luas Bangunan : 804 meter persegi
  • Jumlah Lantai : 6 lantai
  • Jumlah Tangga : 3
  • Tinggi Tangga : 3 Meter

Jika dihubungkan dengan cara yang digunakan pada masa lalu, maka angka-angka tersebut menjadi tanggal 25 Maret 804 Masehi yang merupakan Hari Jadi Kota Kediri.

Monumen Simpang Lima Gumul, Ikon Kebanggaan Kediri
Monumen Simpang Lima Gumul, Ikon Kebanggaan Kediri
Sementara relief yang menggambarkan kehidupan masyarakat Kediri pada masa lalu terukir di dinding monument bagian luar. Sedangkan pada keempat sudut bangunan terdapat sebuah arca yang cukup besar, yaitu arca Ganesha. Ganesha bagi penganut Hindu adalah Dewa penolak bala, dewa pelindung, dewa pengetahuan dan kecerdasan.

Patung Ganesha di Simpang Lima Gumul, Kediri
Patung Ganesha di empat sudut Simpang Lima Gumul, Kediri

Terowongan Simpang Gumul, Kediri

Memasuki bangunan monument, wisatawan harus melewati sebuah lorong atau terowongan bawah tanah.  Namun, tidak seperti pada jaman dulu dimana terowongan bangunan kerajaan gelap dan menakutkan. Disini, terowongan bawah tanah diterangi dengan lampu-lampu sehingga terlihat terang benderang.

Terowongan di Simpang Lima Gumul
Terowongan di Simpang Lima Gumul, Kediri

Fasilitas Di dalam Monumen SLG

Sesuai dengan namanya, Simpang Lima, maka monument ini memiliki lima jalan simpang dimana di masing-masing persimpangan terdapat fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh pihak pengelolah sehingga pengunjung merasa nyaman ditempat ini.

Fasilitas Perpustakaan di Simpang Lima Gumul, Kediri
Perpustakaan di Simpang Lima Gumul, Kediri

Perpustakaan Simpang Lima Gumul, Kediri
Membaca di Perpustakaan Simpang Lima Gumul

Salah satu persimpangannya merupakan tempat parkir saja, persimpangan kedua dan ketiga merupakan Taman Ruang Hijau SLG dan tempat bermain yang berada di seberang jalan. 

Taman bermain di Simpang Lima Gumul
Taman bermain di Simpang Lima Gumul, Kediri

Persimpangan keempat menuju penginapan atau wisma, persimpangan kelima menuju Pasar Minggu.
Karena disebut Pasar Minggu, maka pasar tersebut adanya pada hari Minggu saja.

Tempat Parkir SLG

Tempat parker di objek wisata ini sangat luas dan aman, lokasinya tidak jauh dari monumen. Untuk menuju monument, kita bisa berjala kaki dari tempat parkir melewati terowongan bawah tanah. Biaya Parkir Kendaraan Rp. 2.000.
Outlet Souvenir di Simpang Lima Gumul, Kediri
Outlet Souvenir di Simpang Lima Gumul, Kediri

Kuliner SLG

Apabila kita tidak membawa bekal, maka di dekat area parkir juga terdapat banyak penjual makanan yang menjajakan makanan khas Kediri seperti : 

  • Lontong Sayur
  • Pecel
  • Nasi Gurih
  • Nasi Bakar, dll.

Selain makanan, ditempat itu juga terdapat outlet yang menjual beragam souvenir cantik.

Lokasi Simpang lima gumul

Keberadaan Monumen SLG tidak terlalu jauh dari pusat Kota Kediri, hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit perjalanan. Secara administratif, Monumen ini terletak di Desa Tugu Rejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri.

Akses Menuju SLG

Untuk menuju Kediri, ada dua rute perjalanan yaitu dari Surabaya atau dari Malang. Jarak tempuh jika berangkat dari Bandara Juanda Surabaya, kurang lebih 120 KM. Sedangkan jika menggunakan rute perjalanan dari Malang, kita harus melewati kota Batu terlebih dahulu lalu melewati jalanan berkelok yang cukup menegangkan.

Namun, pemandangan alam sepanjang perjalanan sungguh indah. Salah satunya, kita dapat menikmati keindahan alam Waduk Selorejo yang berada tepat dipinggir jalan menuju Kediri seperti perjalanan Ulik Maula yang sempat mengabadikan keindahan alam waduk tersebut.

Waduk Selorejo, Ngantang, Malang
Waduk Selorejo, Ngantang, Malang

Banyak pilihan moda transportasi yang digunakan untuk menuju Kediri, baik menggunakan mobil pribadi, bus maupun angkutan umum lainnya.

Waktu Yang Tepat Berkunjung Ke SLG

Jika kita mengunjungi SLG bersama keluarga, siang hari adalah waktu yang tepat. Karena anak-anak kita dapat menikmati fasilitas yang tersedia di lokasi wisata ini seperti tempat bermain, perpustakaan dan lain-lain.

Namun, jika bersama teman-teman atau pasangan, saat yang tepat untuk berkunjung ke wisata ini adalah pada malam hari. Disamping pengunjungnya tidak terlalu ramai, suasananya tenang dan pada malam hari monumen ini terlihat lebih “glamor” karena lampu lampu yang memenuhi sisi bangunan menyala.

Sehingga kita dapat berlama-lama ditempat ini dengan menikmati pemandangan monument dan melihat hilir mudik kendaraan yang melintas.

Monumen Simpang Gumul dan Museum L’Arc de Triomphe

Secara arsitektur, bangunan monument SLG meniru arsitektur Museum L’Arc de Triomphe yang berada di kota Paris, Perancis. Meskipun tidak sama persis, namun dari sisi luar terlihat mirip seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Monumen Simpang Gumul dan Museum L’Arc de Triomphe

Monumen Simpang Gumul dan Museum L’Arc de Triomphe

Dari sisi tujuan pembangunan monument, keduanya berbeda. Bila Monumen Simpang Lima Gumul di bangun dengan tujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Kediri dan mengenang kebesaran Raja Jayabaya, maka Museum L’Arc de Triomphe didirikan dengan tujuan memberikan penghormatan terhadap pahlawan yang bertempur dalam perang revolusi Perancis dan pertempuran Napoleon.

Menurut Wikipedia Indonesia, Arc de triomphe de l'Étoile atau biasa dikenal sebagai Arc de Triomphe  dalam Bahasa Indonesia berarti Gapura Kemenangan adalah monumen berbentuk Pelengkung kemenangan di Paris yang berdiri di tengah area Place de l'Étoile, di ujung barat wilayah Champs-Élysées. Monumen kemenangan ini dibangun atas perintah Sang Kaisar, Napoleon Bonaparte dengan tujuan menghormati jasa tentara kebesarannya.

Itulah persamaan dan perbedaan antara Monumen Simpang Lima Gumul dengan Museum L’Arc de Triomphe, Paris.

Akhir Perjalanan Ke Monumen SLG

Dengan rekreasi mengunjungi objek-objek wisata, selain dapat menambah wawasan dan pengetahuan, kita dapat sejenak melepaskan beban kehidupan sehingga pikiran dan jiwa menjadi segar kembali. Tidak harus mahal, karena banyak objek-objek wisata yang murah meriah seperti halnya Monumen Simpang Lima Gumul ini.

Mengutip ucapan Bung Karno,
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.”
Tidak hanya pahlawan kemerdekaan saja, tapi jasa para leluhur-leluhur kita pada masa lalu. Tanpa mereka, kita tidak mungkin ada sekarang ini. Maka, jangan lupakan jati diri bangsa Indonesia.

Tunggu apalagi, ayo dolen rek..

Semoga bermanfaat..

Artikel Wisata Lainnya :



0 comments:

Post a Comment