Home » » Gempa NTB dan Renungan Muhasabah Diri

Gempa NTB dan Renungan Muhasabah Diri

Gempa NTB dan Renungan Muhasabah Diri – Satu musibah nasional kembali terjadi di bumi Nusantara ketika Gunung Rinjani yang menjadi pusat gempa menghentak kehidupan masyarakat NTB. Tercatat hingga hari ini, 236 orang luka-luka dan 98 orang meninggal dunia. Jumlah tersebut masih dapat bertambah mengingat masih banyak yang belum tertangani petugas.

Gempa NTB dan Renungan Muhasabah Diri
Gempa NTB dan Renungan Muhasabah Diri
Gambar : Sindonews.com

Untuk mengantisipasi adanya gempa susulan aparat bergerak cepat dengan melakukan evakuasi terutama pasien rumah sakit. Sementara penduduk berbondong-bondong mengungsi ke bukit atau ke gunung dengan perlengkapan seadanya. Aparat setempat pun sibuk dibuatnya.

Gili Trawangan
Gili Trawangan
Gambar : tempat wisata seru

Bahkan sampai saat ini di pulau Gili Trawangan tepatnya di Gili Manu,objek wisata andalan di NTB, masih terdapat ratusan wisatawan asing yang belum terevakuasi.

Saat menyaksikan tayangan ini di televisi,  kembali fikiran liar saya menggeliat mempertanyakan mengapa, kenapa dan bagaimana musibah ini harus terjadi. Tidak untuk memanfaatkan situasi namun hanya sebagai bahan renungan untuk muhasabah diri.

Apapun yang menjadi penyebab terjadinya gempa, yang jelas Tuhan sedang Murka karena tidak ada sesuatu yang lepas dari kuasanNya. 

Mengutip salah satu lagu Ebiet GAD yang sering dikumandangkan saat terjadi musibah,

“Mungkin Tuhan sudah bosan,
melihat tingkah kita,
yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita. “

Dan, Tuhan Maha Kuasa sehingga teramat sangat mudah bagiNya untuk memberikan anugerah maupun bencana kepada manusia.
“Tidak sehelai daun yang gugur ke muka bumi ini tanpa kehendakNya.”
Terlepas dari benar dan salah, Tuhan sedang menunjukkan kekuasaannya melalui alam semesta. Gunung Rinjani bergolak menunjukkan keperkasaannya, alih-alih meletus gunung ini menggeliat hingga menyebabkan lempengan bumi patah. Maka, air laut meluap dan gempa memporak-porandakan rumah dan bangunan.

Gempa NTB dan Renungan Muhasabah Diri
Gempa NTB dan Renungan Muhasabah Diri
Gambar : merdeka.com

Ketika alam murka maka manusia tak ubahnya seekor semut yang berlarian kesana kemari karena sarangnya dirusak.

Malam mencekam di NTB
Malam mencekam di NTB
Gambar : merdeka.com

Lalu, apa hikmah dibalik musibah ini?

Konon, bila ada satu orang saja yang masih mengingat Allah, Tuhan YME, atau berbagai nama lainnya, maka bencana tidak akan datang pada masyarakat itu. Apakah mungkin, masyarakat yang tinggal di Mataram dan lainnya yang terserang gempa, sudah tidak ada lagi yang mengingat Sang Penciptanya lalu larut dalam dosa dan kemaksiatan?

Ataukah mereka menyebut nama Tuhan hanya sebatas lisan saja, tidak dengan hati yang paling dalam?

Wallahu a’lam..

Bercermin pada umat-umat terdahulu dimana mereka membuat murka Tuhan lalu dimusnahkan seperti umat Nabi Nuh, Nabi Luth dan umat-umat terdahulu lainnya, bahkan Tsunami yang melanda Aceh pada 2006 silam, maka bencana yang datang di bumi NTB ini seolah mengulang kembali sejarah kelam tersebut.

Satu hal yang patut kita catat dan camkan dalam hati,
“Kematian bisa datang kapan saja dan dimana saja, bahkan saat kita tidur pulas diatas kasur yang empuk.”
Lalu, apakah harta benda kita, pasangan kita yang cantik dan rupawan, anak-anak kita atau para pengawal yang kita miliki mampu menyelamatkan kita?

Jangankan memikirkan itu semua, pada saat itu, ketika gempa melanda, bahkan istri tercinta, harta benda dan anak-anak, mungkin akan kita lupakan lalu sibuk menyelamatkan diri sendiri.

Hanya Tuhan YME yang mampu menyelamatkan dengan caraNya.

Bagi mereka yang selamat dari musibah ini, namun harta benda atau kesayangan mereka lenyap bersama puing-puing bangunan, masihkah mampu memetik hikmah dari peristiwa ini?

Semoga Tuhan memberikan kekuatan pada mereka. Amiin..

Jika Tuhan memberikan kesempatan, maka musibah dan bencana merupakan pencuci bagi dosa-dosa kita sehingga kita menjadi bersih dan suci seolah bayi baru lahir ke dunia. Lalu mengubah cara pandang, perilaku dan yang terpenting adalah keimanan kita.

Harta benda, pasangan nan rupawan, anak-anak yang mungil dan lucu, semuanya hanya titipan untuk di dunia yang hanya sebentar saja. Tujuan kita yang utama adalah Tuhan YME. 

Lalu mengapa kita berat untuk menyalurkan kepada mereka yang membutuhkan harta yang hanya titipan saja?

Entahlah, jangan terlalu diambil hati, ini hanya ungkapan seseorang yang lemah, bodoh dan tak berdaya melihat musibah yang terjadi di NTB lalu mencoba bercermin dan mengambil hikmah dibaliknya.


Semoga bermanfaat..





0 comments:

Post a Comment