Home » » Jalan-jalan Ke Museum Kereta Api Ambarawa, Mengenang Heroisme Perjuangan Bangsa Indonesia

Jalan-jalan Ke Museum Kereta Api Ambarawa, Mengenang Heroisme Perjuangan Bangsa Indonesia

Jalan-jalan Ke Museum Kereta Api Ambarawa, Mengenang Heroisme Perjuangan Bangsa Indonesia – Banyak kenangan perjuangan bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan 73 tahun yang silam dan terukir pada sosok kereta api. Perjuangan yang penuh dengan lelehan darah dan air mata hingga akhirnya merenggut jiwa para pendahulu kita.

Masih ingatkah kita dengan “Gerbong Maut” yang tersimpan di Museum Brawijaya, sudah lupakah kita dengan monument kereta maut yang berada di pusat kota Situbondo dan masih banyak gerbong-gerbong kereta api lainnya yang menjadi tempat pemakaman para pejuang Indonesia?

Sungguh miris jika membayangkan betapa berat penderitaan mereka kala itu.

Satu hal yang patut dijadikan teladan dari perjalanan wisata alumni SMP Negeri 2 Malang angkatan 1976. Mereka memilih objek-objek wisata yang mengandung nilai-nilai sejarah Bangsa Indonesia. Jika sebelumnya mengunjungi Candi Gedong Songo, kali ini mereka mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa.

Jalan-jalan Ke Museum Kereta Api Ambarawa, Mengenang Heroisme Perjuangan Bangsa Indonesia
Alumni 1976, SMP Negeri 2 Malang
Di Museum Kereta Api Ambarawa

Meskipun dengan tujuan wisata, namun secara tidak langsung, kenangan heroisme perjuangan bangsa Indonesia saat melawan penjajahan Belanda, kembali membayang dalam ingatan. Seperti Surabaya yang dijuluki sebagai Kota Pahlawan, maka nama Ambarawa merupakan nama kota yang terkenal dengan Pertempuran Ambarawa atau Palagan Ambarawa.

Jalan-jalan Ke Museum Kereta Api Ambarawa, Mengenang Heroisme Perjuangan Bangsa Indonesia
Mas Chus dkk di pintu masuk
Museum Kereta Api Ambarawa

Tentang perjuangan tentara Indonesia dibawah pimpinan Kolonel Sudirman melawan tentara sekutu yang ditumpangi oleh NICA, akan kita bahas pada artikel lainnya. Kali ini mari kita melihat dan mengenal lebih dekat Museum Kereta Api Ambarawa.

Tentang Museum Kereta Api Ambarawa

Museum Kereta Api Ambarawa memang dulunya adalah stasiun kereta api tempo dulu yang dialih-fungsikan menjadi sebuah museum pada tahun 1973. Koleksi kereta api dan aksesorisnya cukup lengkap dan unik.

Mulai memasuki pintu masuk, ruang tunggu, tempat pembayaran loket, dan hampir semua fasilitas di museum ini suasana tempo dulu terasa sangat kental, begitu pula saat keluar. 

Alumni SMPN 2 Malang di Museum Kereta Api Ambarawa
Ibu-ibu Alumni SMPN 2 Malang di Museum Kereta Api Ambarawa

Sebuah gerbong dan lokomotif tua masih terpajang dengan apik, sementara di sudut lainnya ada lokomotif uap yang antik dan diletakkan di halaman museum, seri B,C,D dan CC yang paling besar. Ditambah lagi dengan sebuah kereta api bergigi yang hanya ada 3 saja di dunia. 

Di museum ini, kita tidak hanya dapat melihat dan berfoto saja, tapi juga bisa naik kereta api uap bergerigi dengan rute Ambarawa menuju Tuntang dikenakan tarif sebesar Rp 50.000 per orang. Kita juga dapat merasakan sensasi menaiki Kereta Api Lori dengan tarif yang lebih murah yakni sebesar Rp 15.000 saja. 

Alumni SMPN 2 Malang Mencoba Gerbong KA di Museum Ambarawa
Alumni SMPN 2 Malang Mencoba Gerbong KA di Museum Ambarawa

Hal yang menjadikan kereta api uap ini unik dan menarik adalah kereta ini masih menggunakan bahan bakar berupa kayu bakar. Ditambah dengan bunyinya yang khas dan asap yang membumbung melalui cerobongnya.

Sepanjang perjalanan menggunakan kereta api uap ini, kita akan disuguhi pemandangan alam yang indah berupa hamparan sawah nan hijau serta sosok Gunung Merbabu yang berdiri megah. Satu pemandangan yang akan melekat dalam benak kita.

Sejarah Museum Kereta Api Ambarawa

Pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda, Ambarawa semula merupakan sebuah kota militer, namun Raja Willem  memerintahkan untuk membangun sebuah stasiun kereta api dengan tujuan memudahkan untuk mengangkut tentaranya ke Semarang. Kemudian di atas tanah seluas 127.500 m² pada tanggal 21 Mei 1873, stasiun kereta api Ambarawa dibangun.

Nama yang dikenal pertama kali adalah Stasiun Willem I

Pada awalnya, stasiun Ambarawa menjadi titik persimpangan antara kereta dengan lebar 1.435 mm ke arah Kedungjati dengan kereta lebar 1.067 mm ke arah Yogyakarta melalui Magelang. Terlihat pada kedua sisinya yang dibangun stasiun kereta api untuk mengakomodasi ukuran lebar sepur dengan ukuran berbeda.

Alumni SMPN 2 Malang di Museum Kereta Api Ambarawa
Alumni SMPN 2 Malang di salah satu ruangan Museum Kereta Api Ambarawa

Setelah berakhirnya penjajahan Belanda, untuk tetap melestarikan lokomotif uap yang ada, maka pada tanggal 6 Oktober 1976 di Stasiun Ambarawa didirikan museum kereta api dan jalur rel 1.435 mm milik Perusahaan Negara Kereta Api yang sudah ditutup, dibuka kembali.

Sehingga museum Ambarawa Ini menjadi museum terbuka yang terdapat pada kompleks stasiun.

Penutup

Mengutip syair lagu anak-anak,
“Naik kereta api, tut tut tut. Siapa hendak turun…”
Menginjak usia jelita atau Lolita, kenangan masa kanak-kanak memang sering membayang dalam hati. Sehingga merasakan kembali perjalanan naik kereta api akan dapat mengobati kerinduan tersebut.

Gaya bebas Mas Chus dkk di Museum Kereta Api Ambarawa
Gaya bebas Mas Chus dkk di Museum Kereta Api Ambarawa

Begitu pula dengan mas Chusbianto dan kawan-kawan alumni SMP Negeri 2 Malang. Selain melakukan perjalanan wisata, mereka juga mengenang kembali heroism perjuangan para pahlawan kita saat melawan penjajah.

Tunggu apalagi? Mari jalan-jalan ke tempat-tempat bersejarah yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi? 

Ayo dolen rek..

Untuk menjaga agar perjalanan wisata anda tidak terganggu dengan menurunnya kondisi fisik, maka sebaiknya anda membawa bekal Milagros, Air kesehatan alami dan kekinian.

Untuk pemesanan hubungi Sulistyo 082159098986, baik melalui SMS/WA atau telpon langsung, Milagros anda akan kami kirim ke alamat rumah anda atau akan kami lewatkan stok case terdekat dimana anda berada.

Perjalanan Wisata Lainnya :


1 comments: