Home » » Mutiara Hikmah Dari Sang Penjual Koran

Mutiara Hikmah Dari Sang Penjual Koran

Mutiara Hikmah Dari Sang Penjual Koran – Kadang kita merasa hanya orang-orang alim dan terpelajar saja yang mampu menyampaikan hikmah kehidupan. Namun anggapan tersebut tidaklah benar ketika suatu hari, saya menemukan mutiara hikmah dari seorang penjual Koran. Tidak hanya kata-kata saja, tapi ia menerapkannya dalam kehidupannya yang penuh keprihatinan.

Mutiara Hikmah Dari Sang Penjual Koran
Mutiara Hikmah Dari Sang Penjual Koran
Gambar : dedi dwitagama.wordpress.com

Keimanan, kesabaran, kepasrahan dan ketakwaannya kepada Tuhan membuat saya merasa malu. Berikut ini adalah kisah pertemuan saya dengan sang penjual Koran.

Mutiara Hikmah Dari Sang Penjual Koran

Pagi itu seorang penjual koran berteduh di sebuah warung di pinggir jalan pasar Wagir, Malang. Sejak subuh hujan turun lebat sekali dan tak kunjung reda, seakan menghalanginya melakukan aktivitas untuk berjualan koran seperti biasanya.

Terbayang dipikiranku, tidak ada satu rupiah pun uang yang diperoleh seandainya hujan tidak berhenti. Namun, kegalauan yang kurasakan ternyata tidak nampak sedikitpun di wajah penjual koran itu.

Hujan masih terus turun..

Sang penjual koran itu pun hanya tenang-tenang saja sambil memegang sesuatu ditangannya. Terlihat seperti sebuah buku. Dari kejauhan, nampak ia membuka lembar demi lembar lalu membacanya dengan serius. Awalnya aku tidak tahu buku apa yang sedang dibacanya. Namun setelah perlahan ku dekati..

Ternyata kitab suci Al Qur'an yang dibacanya..

"Assalamu alaikum...” ucapku.

Wa alaikum salam..” jawabnya sambil menjabat erat tanganku dengan penuh keakraban meskipun baru saja kami bertemu.

"Bagaimana jualan korannya mas?"

Alhamdulillah, sudah terjual satu..” jawabnya.

"Susah juga ya, kalau hujan begini?"

InshaAllah sudah diatur rejekinya..” sahutnya.

"Terus.. kalau hujannya sampai siang bagaimana?"

“Itu berarti rejeki saya bukan jualan koran hari ini tapi harus banyak berdo'a..bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda, ketika hujan adalah saat yang  mustajab untuk berdoa. Maka berdoa itu adalah rejeki juga..” jawabnya.

"Lantas, kalau tak dapat uang hari ini bagaimana?"

“Berarti, rejeki saya adalah bersabar.. “ jawabnya.

" Kalau tidak ada yang bisa dimakan bagaimana mas ?"

“Berarti rejeki saya berpuasa..” jawabnya pula.

" Kenapa sampean bisa berpikir seperti itu?"

Kata-kata ikhlas meluncur dari bibirnya yang kering, “Allah SWT yang mengatur dan memberi kita rejeki. Maka, apapun yang beliau berikan kepada saya akan tetap saya syukuri, meskipun dagangan saya hari ini tidak laku dan saya pun harus puasa. Saya tidak pernah merasa kelaparan.

Hujan pun berhenti. Perbincangan kami pun turut berhenti ketika Si penjual koran itu bersiap-siap untuk terus menjajakan dagangannya.

Sepeninggalnya, aku termenung..

Mengapa kalau ada hujan ada yang resah-gelisah..

  • Khawatir tidak dapat uang..
  • Risau rumahnya akan terendam banjir..
  • Bimbang tidak bisa datang ke kantor..

Kembali baru kusadari,  jika rejeki tidak berupa uang saja. Tetapi bisa dalam bentuk lain seperti :
Hidayah, Kesabaran, Berpuasa, Berdoa, beribadah dan rasa syukur..

Itulah mutiara hikmah yang kutemukan pada pagi hari dari seorang penjual koran paruh baya di tepi sebuah warung. Sosok sederhana yang membuat saya merasa tersentuh karena keikhlasan, kesabaran dan keimanannya yang begitu kuat kepada Allah SWT.

Semoga bermanfaat ..

Sumber : 
Rahmad Wiyanto, Alumni FMIPA Universitas Brawijaya, Malang 

1 comments: