Home » » 20 Tradisi Unik Di Indonesia Dalam Menyambut 1 Muharam Atau 1 Suro 2018

20 Tradisi Unik Di Indonesia Dalam Menyambut 1 Muharam Atau 1 Suro 2018

20 Tradisi Unik Di Indonesia Dalam Menyambut 1 Muharam Atau 1 Suro 2018 -  1 Muharam atau lebih dikenal dengan 1 Suro atau tahun baru Hijiryah merupakan pergantian tahun dalam penanggalan bulan. Dalam menyambut pergantian tahun tersebut masyarakat Indonesia di berbagai daerah melakukan kegiatan unik yang sudah menjadi tradisi dengan tujuan membersihkan jiwa dan raga sehingga pada tahun baru dapat melakukan aktifitas dengan bersih, selamat dan penuh keberkahan.

20 Tradisi Unik Di Indonesia Dalam Menyambut 1 Muharam Atau 1 Suro 2018
20 Tradisi Unik Di Indonesia Dalam Menyambut 1 Muharam Atau 1 Suro 2018
Gambar : tribunnews.com

Kegiatan dalam rangka menyambut 1 Muharam di Indonesia telah melalui proses asimilasi budaya sehingga dengan berbagai cara masyarakat Indonesia memperingati hari yang dianggap sakral ini sesuai dengan warisan leluhurnya.

Nah, untuk mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia di berbagai daerah dalam rangka menyambut tahun baru Hijriyah, mari ikuti ulasan ayodolenrek berikut ini.

20 Tradisi Unik Di Indonesia Dalam Menyambut 1 Muharam Atau 1 Suro 

1. Berendam Atau Kumkum

Berendam di sungai atau di sumber-sumber mata air merupakan salah satu tradisi yang tidak pernah ditinggalkan oleh masyarakat Jawa dengan tujuan menyucikan diri dari kotoran jasmani dan rohani.
Namun, tidak sembarang sungai atau sumber mata air yang menjadi tempat melakukan ritual tersebut. Hanya sungai dengan syarat tertentu dan sumber mata air yang dikeramatkan saja yang menjadi tempatnya.

Berendam Menyambut 1 Muharam
Berendam

Memang di Indonesia banyak memiliki sungai dan sumber mata air yang tersebar di berbagai wilayahnya. Tercatat di Jawa Timur ada Petirtan Jolotundo, Pemandian Wendi, Sumberawan, Sendang Kamulyan dan lain-lain.

Ditempat-tempat ini pada malam menjelang pergantian tahun baru Hijriyah, ramai dan dipenuhi dengan orang-orang yang akan berendam. Dan, mereka dengan penuh kesadaran dan saling menghormati, bergantian berendam.

Setelah berendam dan menyucikan diri, mereka memanjatkan doa agar cita-cita dan keinginannya  tercapai.

2. Ritual Buang Sengkolo 

Bagi sebagian masyarakat Jawa yang mengalami nasib kurang beruntung atau selalu mengalami kesialan dalam hidupnya, menyambut tahun baru Suro dengan jalan melakukan ritual “Buang Sengkolo” atau membuang kesialan diri.

Ritual Buang Sengkolo atau Ruwatan
Buang Sengkolo atau Ruwatan

Caranya bermacam-macam, ada yang memotong rambut lalu membuang sebagian potongan rambutnya ke sungai, membuang benda-beda yang dianggap membawa sial ke laut atau sungai atau melakukan ritual “Ruwat” atau Ruwatan dengan menggelar pertunjukan wayang kulit.

3. Mubeng Benteng

Tradisi tahunan yang diselenggarakan oleh Kerato Ngayogyakarta Hadiningrat setiap bulan Suro adalah Tradisi “Mubeng Benteng”. Saat upacara ini, benda-benda pusaka keraton diarak mengelilingi benteng keratin Jogya dan para peserta ritual dilarang untuk berbicara atau “topo bisu” serta tidak  mengenakan alas kaki atau “nyeker.”

Tradisi Mubeng Benteng Jogyakarta
Tradisi Mubeng Benteng, Jogyakarta
Gambar : okezone.com

Tradisi “Mubeng Benteng” tahun ini akan diselenggarakan pada tanggal 21 September yang dilakukan oleh para abdi dalem Keraton Yogyakarta. 

4. Tirakatan

Tradisi unik lainnya yang biasa dilakukan masyarakat Jawa menyambut bulan Suro khususnya para penghayat aliran kepercayaan Jawa adalah mengadakan tirakatan atau melekan semalam suntuk disertai dengan acara syukuran atau selamatan.

Biasanya seminggu sebelumnya atau tiga hari sebelumnya, mereka berpuasa terlebih dahulu.

5. Tabot

Berbeda dengan di Jawa, tradisi unik yang dilakukan masyarakat Bengkulu setiap tahun pada tanggal 1 – 10 Muharam untuk menyambut pergantian tahun Hijriyah disebut Tabot. 

Tradisi Tabot awalnya dibawa dan dikembangkan oleh orang India asal Siphoy yang datang bersama pasukan Inggris pada tahun 1685. Salah satunya adalah Syeh Burhanuddin atau lebih dikenal dengan nama Imam Senggolo.

Tabot Bengkulu
Tabot Bengkulu

Nama Tabot berasal dari bahasa arab yaitu “Tabut” yang secara harfia berarti kotak kayu atau peti. Menurut kepercayaan kaum Bani Israel, apabila Tabut ini muncul ditangan pemimpin mereka maka akan mendatangkan kebaikan bagi mereka, demikian sebaliknya.

Karena tradisi Tabot ini tumbuh dan berkembang sejak lama di bumi Raflesia Arnoldi ini maka sudah dianggap sebagai upacara tradisional masyarakat Bengkulu. 

Bagi masyarakat Bengkulu, tradisi Tabot merupakan upacara berkabung atas gugurnya Syaid Agung Husien bin Ali bin Abi Thalib, salah seorang cucu Nabi Muhammad SAW. Tujuan dari ritual ini adalah untuk mengenang jerih payah para pemimpin Syi'ah dan kaumnya dalam mengumpulkan bagian-bagian dari jenazah tubuh Husien.

Kemudian jenazah Hesein diarak dan dimakamkan di Padang Karbala. Tradisi Tabot berlangsung selama 10 hari mulai tanggal 1 sampai dengan 10 Muharram. 

6. Tabuik

Hampir sama dengan Tabot, Tabuik adalah tradisi yang diselenggarakan oleh masyarakat Pariaman Sumatera Barat.  Tabuik sendiri merupakan nama dari tradisi unik ini sekaligus sebagai nama benda.

Sebagai benda utama yang diarak beramai-ramai di tepi laut kemudian dibuang atau di larung ke laut, Tabuik merupakan sebuah benda berbentuk keranda bertingkat tiga yang terbuat dari kayu, rotan, dan bambu. 

Tradisi Tabuik Pariaman, Sumatera Barat
Tradisi Tabuik, Pariaman, Sumbar
Gambar : adambukhoris

Bentuk badan dari Tabuik berupa seekor kuda besar yang bersayap lebar dan berkepala perempuan cantik berambut panjang. Badan Tabuik ini dibuat mulai dari tanggal 1 hingga 9 Muharam. Pengerjaannya dilakukan oleh dua kelompok masyarakat Pariaman yaitu kelompok Pasar dan kelompok Suberang.Tabuik, dan Tabuik yang dibuat pun dua buah.

7. Kirab Muharam

Kirab Muharam adalah tradisi tahunan yang diselenggarakan Keraton Surakarta. Keunikan dari tradisi ini adalah hadirnya kerbau bule atau kerbau putih yang bernama Kiai Slamet. Konon, Kebo bule ini merupakan hewan kesayangan Susuhunan Paku Buwono yang dianggap keramat.

Kirab Muharam Surakarta
Kirab Muharam, Surakarta
Gambar : jatengpos.com

Karena kekeramatannya itu membuat masyarakat yang mengikuti prosesi ini akan berebutan untuk menyentuh tubuh sang kerbau, bahkan jika sang kerbau buang kotoran maka kotorannya pun akan diperebutkan oleh warga yang mayoritas adalah petani. 

8. Ngadulag 

Ngadulag merupakan tradisi unik berupa perlombaan menabuh bedug yang diselenggarakan oleh pemerintah Sukabumi, Jawa Barat untuk merayakan tahun baru islam.

Ngadulag
Ngadulag, NU Online

9. Nganggung

Berbeda dengan masyarakat Pangkalpinang, Bangka, mereka menyambut tahun baru Islam dengan tradisi makan bersama di Masjid yang disebut Nganggung. Dalam tradisi ini, masyarakat membawa dulang uang berisi makanan dan lauk pauknya untuk dimakan bersama-sama.

Nganggung Sepintu Sedulangan
Nganggung Sepintu Sedulangan
Gambar :  sumber

Biasanya, Tradisi Nganggung ini mampu mengumpulkan ratusan dulang dan satu dulang yang berukuran besar berisi makanan dan lauknya. 

10. Bulan Asan-Usen

Sedangkan masyarakat Aceh merayakan pergantian tahun baru Islam ini dengan melakukan ritual untuk mengenang wafatnya Husein, cucu Nabi Muhammad, dengan makan bersama. Keunikannya terletak pada sajian makanannya yaitu bubur khanji acura yg terdiri dari beras santan, gula irisan kelapa, dan buah buahan seperti, kacang kacangan, papaya, delima pisang, tebu serta umbi umbian.

11. Pawai Obor

Pawai Obor adalah tradisi yang umum dilakukan oleh masyarakat Indonesia yang tinggal di pedesaan atau perkampungan untuk menyambut datangnya tahun baru hijriyah.

12. Tradisi Bubur Suro

Bubur Suro merupakan kuliner yang disajikan saat merayakan datangnya tahun baru Hijriyah, khususnya masyarakat Jawa Barat. 

Bubur Suro dibuat dari bahan-bahan seperti beras, santan, garam, jahe, dan sereh lalu dihiasi dengan topping serpihan jeruk bali dan butiran delima serta 7 jenis kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang mede, kacang hijau, kedelai, kacang merah, kacang tholo, dan kacang bogor. Kemudian ditambahkan irisan mentimun dan daun kemangi. 

Selain Bubur Suro dalam tradisi ini juga dibuat kembar mayang, sirih, dan keranjang berisi aneka buah-buahan yang semuanya terdiri dari 7 rupa. 

13. Grebeg Suro

Grebeg Suro merupakan tradisi yang enjadi agenda tahunan pemda Ponorogo dengan tujuan merayakan tahun baru Hijriyah sekaligus melestarikan budaya yang menjadi ciri khas Ponorogo.

Grebeg Suro Ponorogo
Grebeg Suro, Ponorogo

Kegiatan yang dilakukan pada tradisi ini antara lain festival reog nasional, pawai lintas sejarah, kirab pusaka, dan larungan risalah doa di Telaga Ngebel.  

14. Bubur Asura 

Jika di Jawa Barat memperingati 1 Muharam dengan menyajikan kuliner Bubur Suro, maka hampir sama dengan di pulau Kalimantan. Namun, berbeda nama dan bahannya yang disebut Bubur Asura. Bubur ini terbuat dari beras yang dimasak dengan santan dan dicampur dengan segala macam sayur-sayuran. 

15. Beli barang baru 

Mungkin, tradisi yang satu ini menjadi kegemaran ibu-ibu rumah tangga dimana pada awal bulan Muharam, ibu-ibu di Makasar akan berbondong-bondong beli peralatan rumah tangga yang baru. 

Dengan berbelanja peralatan baru, mereka percaya bahwa barang-barang yang dibeli pada waktu tersebut akan membawa berkah sepanjang tahun berikutnya.

16. Berdoa di Pantai

Selain mandi di Sungai atau sumber mata air, Pantai merupakan salah satu tujuan masyarakat Jawa dalam memperingati malam 1 Suro. Mereka mandi, berendam dan berdoa di pantai terutama pantai di sisi selatan pulau Jawa seperti Pantai Parangtritis, Bantul dan Pantai Balekambang, Malang serta pantai-pantai lainnya.

17. Sedekah Gunung

Bagi masyarakat sekitar Gunung Merapi, khususnya masyarakat Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mereka merayakan malam 1 Suro dengan melakukan ritual sedekah di Gunung Merapi  atau lebih dikenal sebagai Sedekah Merapi.

Sedekah Gunung Merapi
Sedekah Gunung Merapi - Antara Foto

Tradisi ini sebagai penghormatan kepada para leluhur dan  mahluk gaib penguasa Merapi. Persembahannya berupa kepala kerbau dan tujuh tumpeng nasi kepada leluhur Kyai dan Nyai Singomerjoyo, Kyai dan Nyai Simbarjaya, Nyai Gadung Melati, mahluk gaib penunggu kawasan Pasar Bubrah serta Kyai Petruk yang merupakan penguasa seluruh Merapi.

18. Mabit di Masjid

Bagi umat muslim, alternatif kegiatan untuk menyambut tahun baru Hijriyah adalah dengan menyelenggarakan mabit pada malam tahun baru yang diisi dengan ceramah agama dan dilanjutkan dengan aktivitas keagamaan yang bersifat pribadi. 

Intinya, peserta Mabit dapat menggunakan kesempatan ini untuk melakukan intropeksi atau refleksi diri selama menginap di masjid.  

19. Mencuci Pusaka

Nah, tradisi mencuci pusaka pada malam 1 Suro ini sudah melekat pada kebiasaan masyarakat Jawa. Meskipun pada prakteknya, tidak hanya orang Jawa saja yang melakukannya.

Mencuci Pusaka
Mencuci Pusaka : malangvoice.com

20. Buang, Isi Dan Asah Ilmu

Sudah menjadi rahasia umum apabila masyarakat Indonesia menyukai dunia supra natural, ilmu kesaktian dan segala hal yang berkaitan dengan mistis. Dan, malam 1 Suro adalah waktu yang ditunggu oleh mereka yang akan melakukan tradisi membuang ilmu, mengisi ilmu kesaktian baru dan mengasah ketajaman ilmu yang dimilikinya.


Penutup

Sesuai dengan keragaman suku, agama dan ras-nya yang terdapat dalam “Bhineka Tunggal Ika”, beragam pula tradisi dan upacara masyarakat Indonesia dalam menyambut datangnya tahun baru Islam atau 1 Muharam.

“Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.”
Itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan keragaman masyarakat Indonesia.

Tunggu apalagi? Mari mengenal tradisi unik yang tersebar di belahan Nusantara. 


4 comments:

  1. Kalo kirab maaraman... aaku pwrnah ngikuti mulai keluar dari keraron sblh selatan sampai masuk lagi lewat Jl. Slamet Riadi...
    Banyak kejadian unik krn kepercayaan masyarakat Sala kepercayaan.
    Tidak hanya suku Jawa sj bahkan orang Sala keturunan Tionghoaikut menyiram Kiai Slamet dgn bung.
    Asyik dan sangat khidmat walau sdkt mistis...

    ReplyDelete
  2. Itu saat aku baru ti
    nggal di wilayah Karesdenan Surakarta Hadiningrat

    ReplyDelete
  3. Kita bersyukur hidup di negara yang kaya tradisi....thithik thithik slametan....oleh berkat

    ReplyDelete