Home » » Mengenang Hari Pahlawan Dengan Menyusuri Kota Tua Jakarta 2018

Mengenang Hari Pahlawan Dengan Menyusuri Kota Tua Jakarta 2018

Kota Tua Jakarta 2018 – Banyak objek wisata alam dan taman hiburan di kota Jakarta, namun dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2018, mengunjungi Kota Tua Jakarta sambil mengenang jasa Pahlawan dapat menjadi satu pilihan saat liburan. Kawasan Kota Tua Jakarta merupakan tempat yang sarat dengan nilai sejarah dan masih kental akan nuansa tempo dulu. 

Pada mulanya, Kota Tua Jakarta merupakan kawasan yang dibangun oleh kolonial Belanda sebagai pusat perdagangan di Asia. Batavia, nama yang dulu disematkan pada kota yang menjadi kawasan pusat perdagangan baik dalam negeri  maupun luar negeri ini melalui jalur pelayaran.

Surianto dan istri di Kota Tua Jakarta
Surianto dan istri di Kota Tua Jakarta

Sahabat dolenners, untuk lebih mengenal objek wisata di kota metropolitan yang menjadi warisan tempo dulu ini, mari ikuti ulasan ayodolenrek berikut ini.

Tentang Kota Tua Jakarta

Sejarah Kota Tua Jakarta

Sejarah Kota Tua Jakarta berawal pada tahun 1526 ketika Fatahillah atau Sunan Gunung Jati dikirim oleh Kesultanan Demak untuk menyerang dan menaklukkan pelabuhan Sunda Kelapa yang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Lalu wilayah ini diberi nama Jayakarta.

Pada tahun 1619, Belanda dengan bendera VOC merebut dan menghancurkan kota Jayakarta.  Dan, sebagai pemimpinnya adalah Jenderal Jan Pieterszoon Coen yang terkenal. Kemudian, setelah satu tahun, VOC membangun kembali Jayakarta dengan nama baru, Batavia.

Surianto dan keluarga di Kota Tua Jakarta
Surianto dan keluarga di Kota Tua Jakarta

Pembangunan kota Batavia dimulai pada tahun 1635, dengan semakin luasnya wilayah yang dikuasai hingga tepi barat sungai Ciliwung, maka desain kota menggunakan gaya arsitektur Belanda dimana  sungai digunakan sebagai kanal pemisah antara blok-blok.

Batavia selesai dibangun pada tahun 1650, kemudian kota ini difungsikan sebagai kantor pusat VOC di Hindia Timur.

Wabah tropis menyerang penduduk Batavia akibat sistem sanitasi yang buruk. Pada tahun 1835 hingga 1870 banyak warga Batavia yang pindah ke wilayah Weltevreden atau daerah di sekitar Lapangan Merdeka.

Museum Sejarah Jakarta Tempo Dulu
Museum Sejarah Jakarta Tempo Dulu

Saat pendudukan Jepang pada tahun 1942, Batavia berganti nama menjadi Jakarta dan menjadi ibu kota Indonesia hingga saat ini.

Dan, pada tahun 1972, Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, mengeluarkan dekrit resmi yang menjadikan Kota Tua sebagai situs warisan budaya atau kota heritage dengan tujuan untuk melindungi sejarah arsitektur dan bangunan yang masih tersisa.

Daya Tarik Kota Tua Jakarta

Satu pertanyaan yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar nama Kota Tua Jakarta, terutama bagi yang belum pernah datang mengunjunginya.

“Ada apa di Kota Tua Jakarta?

Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, berikut ini adalah beberapa tempat bersejarah dan mengandung kenangan tempo dulu yang ada di kota Tua Jakarta.

1. Museum Fatahillah

Cara lain untuk mengabadikan nama Fatahillah sebagai salah satu pendiri kota Jakarta, maka nama museum di Jl. Taman Fatahillah No. 1, Pinangsia, Tamansari, Jakarta Barat ini diberi nama Museum Fatahillah.

Andini di Meseum Fatahillah, Jakarta
Andini di Museum Fatahillah, Jakarta

Apa yang ada di dalam museum Fatahillah ini?
  • Museum Fatahillah menyimpan sekitar 23.500 koleksi barang bersejarah berupa benda asli maupun hanya replika. Koleksi tersebut berasal dari Museum Jakarta Lama yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27.
  • Beberapa koleksi seperti replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Kota Jakarta, furnitur-furnitur antik, koleksi keramik, gerabah, prasasti, dan deretan benda bersejarah lainnya.
  • Selain itu, di dalam Museum Fatahillah juga terdapat penjara bawah tanah yang menjadi saksi bisu penderitaan dari para tawanan yang kondisinya sangat menyedihkan.
Sebelum dijadikan museum, pada masa penjajahan Belanda, gedung ini digunakan sebagai balai kota yang dikenal dengan nama Stadhius. Kemudian, degung ini juga pernah digunakan sebagai pengadilan, kantor catatan sipil, tempat ibadah Minggu, dan tempat Dewan Kotapraja.

Andini dengan salah satu koleksi Museum Fatahillah, Jakarta
Andini dengan salah satu koleksi Museum Fatahillah, Jakarta

Barulah pada tahun 1968, gedung ini secara resmi diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta. Kemudian oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin gedung ini diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974.

2. Pelabuhan Sunda Kelapa

Pada masa lalu, peranan Pelabuhan Sunda Kelapa bagi perkembangan sejarah kota  Jakarta, sangatlah vital. Karena melalui pelabuhan inilah, nama Jakarta dikenal luas oleh para pedagang di dunia. Sehingga mereka berbondong-bondong datang untuk melakukan perniagaan.

Seperti  pedagang dari Tiongkok yang berlayar ke pelabuhan ini dengan membawa barang kerajinan berupa keramik dan kain sutera untuk ditukarkan dengan rempah-rempah. Kemudian, para pedagang dari India dan Arab pun datang dengan membawa kain dan minyak wangi yang juga ditukarkan dengan rempah-rempah.

Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta
Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta
Gambar : pegipegi.com

Tidak hanya sekali dua, perniagaan dengan ketiga negara ini terus berlanjut dan berjalan baik hingga abad ke-16. Sehingga Pelabuhan Sunda Kelapa  menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai dengan aktivitas jual beli antar negara.

Meskipun sudah tidak seramai dulu, saat ini, pelabuhan ini masih tetap digunakan sebagai dermaga transportasi laut. Dan, kapal-kapal yang ada di pelabuhan ini pun merupakan hasil karya anak nusantara termasuk kapal Pinis Nusantara.

Sebagai objek wisata sejarah, Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi tempat mengenang kisah heroik pada masa lalu dan juga menjadi spot foto yang unik, menarik dan instagramable.

Aktifitas lain yang dapat kita lakukan disini adalah mencoba ojek sampan yang akan membawa kita berlayar menyusuri perairan di pelabuhan dengan tarif Rp. 50.000 atau bisa lebih tergantung dari rute dan kepandaian kita menawarnya.

3. Museum Bank Indonesia

Sebelum menjadi Museum Bank Indonesia, bangunan ini merupakan sebuah rumah sakit yang bernama Binnen Hospital, kemudian pada tahun 1828 di-alihfungsikan menjadi bank dengan nama De Javashe Bank (DJB).

Kemudian, setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tahun 1953, bank ini di-nasionalisasikan menjadi Bank Sentral Indonesia atau yang lebih dikenal dengan nama Bank Indonesia.

Museum Bank Indonesia, Kota Tua Jakarta
Museum Bank Indonesia, Kota Tua Jakarta
Gambar : uliulin.com

Pada tahun 1962, Bank Indonesia ini dipindahkan ke gedung baru sehingga gedung ini kosong. Namun, karena menyimpan banyak kenangan masa lalu, gedung lama ini tetap dilestarikan sehingga menjadi Museum Bank Indonesia yang diresmikan pada tanggal 15 Desember 2006.

Hal-hal menarik yang dapat kita peroleh saat mengunjungi Museum Bank Indonesia selain spot foto yang unik dan menarik antara lain adalah :
  • Kita akan mendapat pengetahuan tambahan mengenai sejarah terbentuknya bank sentral yang ada di negara kita ini.
  • Terdapat 324 kaca patri lain yang semuanya dibuat di Atelier Jan Schouten, Delft, Belanda, pada periode 1922 – 1935.
  • Sebuah lukisan wanita dengan lambang Kota Batavia dan Surabaya dan beberapa lukisan unik serta antik lainnya.
  • Ruangan teater dengan kapasitas tempat duduk untuk 40 orang dimana teater tersebut memutar film yang berisi seputar sejarah perbankan dan peranan Bank Indonesia.

Jika ingin berkunjung ke Museum Bank Indonesia, jangan datang pada hari Senin atau hari libur nasional karena pada hari tersebut Museum ini tutup.

4. Museum Seni Rupa dan Keramik

Satu tempat yang menarik lainnya di kawasan Kota Tua Jakarta adalah Museum Seni Rupa dan Keramik. Museum yang awalnya dibangun oleh seorang arsitek bernama Jhe. W.H.F.H. van Raders pada tahun 1870.

Pada masa penjajahan, tepatnya masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Miyer, gedung ini digunakan sebagai Kantor Pengadilan. Kemudian pada tahun 1949 pernah digunakan sebagai sarana Nederlansche Mission Militer (NMM) oleh KNIL yang kemudian diserahkan kepada TNI sebagai gudang logistik.

Museum Seni Rupa Dan Keramik, Kota Tua Jakarta
Museum Seni Rupa Dan Keramik, Kota Tua Jakarta
Gambar : ilmu seni

Pada tahun 1970 hingga 1973, bangunan ini dialihfungsikan sebagai kantor Wali Kota Jakarta Barat, kemudian pada tahun 1974 digunakan sebagai kantor Dinas Museum dan Sejarah. Pada tanggal 20 Agustus 1976, gedung ini diresmikan menjadi Balai Seni Rupa oleh Presiden Soeharto atas inisiatif dari Adam Malik.

Kemudian, pada tanggal 10 Juni 1977, sebagian dari gedung ini diresmikan sebagai Museum Keramik oleh Gubernur DKI, Ali Sadikin. Pada awal tahun 1990, Balai Seni Rupa dan Museum keramik disatukan dan resmi menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik yang dikelola oleh Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta.

Beberapa hal menarik yang dapat kita lakukan di museum ini antara lain dengan mengunjungi Ruang Serbaguna, Workshop Keramik, dan Workshop Melukis serta pameran hasil karya dari para seniman Indonesia sejak kurun waktu 1800-an hingga sekarang.

5. Toko Merah

Satu lagi bangunan unik berwarna merah di sekitar Jl. Kali Besar yang menjadi salah satu cagar budaya di kawasan Kota Tua Jakarta. Yaitu Toko Merah, bangunan yang dulunya merupakan sebuah toko yang dimiliki oleh warga Tionghoa.

Konon, selain sarat dengan nilai-nilai sejarah, Toko Merah merupakan bangunan angker yang memiliki banyak misteri. Memang tidak seramai di Museum Fatahillah dan museum lainnya, namun tempat ini memiliki daya tariknya tersendiri.

Pada tahun 1730, bangunan Toko Merah dibuat oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff dengan konsep sebuah rumah yang besar, megah, dan nyaman. Lalu, pada masa pendudukan Jepang, gedung ini dijadikan sebagai Gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang.

Toko Merah, Kota Tua Jakarta
Toko Merah, Kota Tua Jakarta
Gambar : Jejakpiknik.com

Pada masa, sesudah  kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tahun 1964 Toko Merah berpindah tangan ke swasta dengan pemilik PT Satya Niaga. Kemudian, pada tahun 1977 berubah menjadi PT. Dharma Niaga dan gedungnya tetap digunakan sebagai kantor. 

Pada tahun 1990-an, barulah Toko Merah ini dijadikan sebagai Bangunan Cagar Budaya. Dan setelah lama terabaikan, tempat ini pun direstorasi pada tahun 2012. Sekarang, Toko Merah difungsikan sebagai gedung serba guna yang dapat digunakan sebagai tempat konferensi dan pameran.

Namun, untuk melihat apa yang ada di dalam Toko Merah ini, kita terlebih dulu harus minta ijin kepada petugasnya karena tempat ini tidak sembarangan dibuka untuk umum.

Jam Operasional & Harga Tiket Masuk Wisata Kota Tua Jakarta

Daya tarik Kota Tua sebagai kawasan heritage memang cukup kuat, terbukti hampir setiap hari semua objek wisata selalu ramai pengunjung, baik pada hari libur maupun hari kerja.

Kota Tua Jakarta dapat dikunjungi setiap hari 24 jam. Namun, beberapa tempat wisata di dalamnya memiliki jam operasionalnya masing-masing. Asalkan jangan terlalu malam, kita dapat mengunjungi semua tempat wisata di kawasan Kota Tua ini.

Memasuki kawasan Kota Tua, tidak dikenakan biaya alias gratis. Namun, jika memasuki objek wisatanya akan dikenakan tarif yang nilainya tergantung pada tempat mana yang dikunjungi.

Penutup

Mengunjungi cagar budaya yang banyak mengandung nilai-nilai sejarah memang sangat menarik terutama dilakukan pada Hari Pahlawan. Kenangan-kenangan lama yang terpancar dari objek wisata sejarah ini seolah dapat mempengaruhi kita untuk larut dalam nuansa tempo dulu.

Nah, tunggu apalagi? Ayo dolen rek..

1 comments: