Home » » Menengok Lumpang Kentheng Yang Misterius, Peninggalan Masa Mpu Sindok

Menengok Lumpang Kentheng Yang Misterius, Peninggalan Masa Mpu Sindok

Lumpang Kentheng di Petilasan Urung-urung  – Ternyata, peninggalan masa lalu selain berupa candi, sumber mata air dan prasasti sejarah, masih banyak dalam bentuk yang lain. Salah satunya adalah sebuah lumpang kentheng peninggalan masa Mpu Sindok yang berada di petilasan Urung-urung, dusun Ngujung, desa Toyomarto, Singosari, Malang.

Lumpang Kentheng di Urung-urung, Ngujung, Toyomarto, Singosari, Malang
Lumpang Kentheng di Urung-urung, Ngujung, Toyomarto, Singosari, Malang
Sepintas kita akan menganggapnya sebagai sebuah benda tak berharga yang terbuat dari batu.Namun, ketika menelisik lebih jauh, ternyata lumpang tersebut memiliki nilai sejarah dan manfaat yang besar bagi kehidupan masyarakat sekitarnya.

Pada masa lalu, lumpang dan alu atau lingga yoni adalah satu pasangan tak terpisahkan yang digunakan untuk menghormati Dewi Sri atau dewi kesuburan. Lalu, seiring dengan perubahan jaman dan perkembangan teknologi yang semakin modern, menjadikan masyarakat Indonesia juga berfikir kekinian. Mengutamakan logika mengabaikan rasa.

Sehingga banyak yang melupakan asal-usul, sejarah dan peninggalan masa silam. Dan semoga, mereka tidak melupakan jasa para leluhur dan pahlawan yang telah membangun negeri ini dengan tetesan darah dan keringatnya.

Sahabat dolenners, untuk mengenal salah satu peninggalan sejarah Mpu Sindok berupa lumpang yang ada di Urung-urung, Ngujung, Toyomarto, Singosari, Malang, mari ikuti ulasan ayodolenrek berikut ini.

Kisah Lumpang Kentheng di Petilasan Urung-urung

Menurut penuturan Pak Dji dan Mbah Lim, sesepuh dusun Ngujung, saat penulis temui dirumahnya, mengatakan, “Sebelum dipindahkan ke petilasan Urung-urung, lumpang kentheng ini dulu berada di sebuah tempat yang sekarang dibangun sekolah. Tidak terlalu jauh dari lokasi sekarang.”

Sambil menikmati kopi panas sehabis turun hujan, penulis menyimak penjelasan kedua pinisepuh dusun Ngujung ini.

lumpang kentheng, mpu sindok, peninggalan sejarah, situs purbakala
Lumpang Kentheng, Urung-urung

Pada tahun 1965, lumping tersebut akan dipindahkan ke Urung-urung. Namun, meskipun menggunakan peralatan mesin, lumpang tersebut seolah tidak bergeming, bahkan mesin pengangkutnya pun patah. Lalu, sesepuh desa melakukan ritual dan melakukan komunikasi dengan penghuni gaib yang ada di lumpang tersebut. Dan, mereka setuju untuk dipindahkan dengan alasan akan dibangun satu lembaga pendidikan.

Maka, berpindahlah lumpang kentheng tersebut ke petilasan Urung-urung.

Kemudian, pada tahun 1974, ketika pemerintah mengadakan program ABRI Masuk Desa atau AMD, lumpang kentheng ini akan dipindahkan lagi ke area Candi Sumberawan. Dengan tujuan mengumpulkan situs-situs bersejarah dalam satu kawasan sehingga memudahkan dalam perawatan dan pemeliharaannya.


Seperti sebelumnya, proses pemindahan tidak berjalan dengan lancar dan terkesan tidak masuk akal. Bagaimana tidak, mobil derek yang digunakan untuk membawanya, tiba-tiba alat katrolnya patah dan ditambah dengan hal-hal aneh lainnya.

lumpang kentheng, mpu sindok, peninggalan sejarah, situs purbakala
Petilasan Urung-urung, Ngujung, Toyomarto, Singosari

Akhirnya, lumpang tersebut dapat dipindahkan ke kawasan Candi Sumberawan dengan cara dipikul oleh empat orang sesepuh desa yang berbadan kekar dan kuat.

Setelah beberapa tahun lumpang kentheng tersebut berada di Sumberawan, permasalahan muncul di dusun Ngujung. Penduduk dusun yang mayoritas adalah petani, mengeluh jika hasil panennya selalu gagal. Jika bukan karena kekeringan sehingga hasil panennya menjadi sedikit, maka serangan wabah tanaman akan merusaknya.

Maka, para sesepuh desa lalu berembug. Mereka memutuskan untuk meminta kembali lumpang kentheng tersebut dan menempatkannya kembali di Urung-urung. Setelah mendapat persetujuan dari dinas purbakala, maka dipindahkanlah lumpang tersebut ke tempat asalnya.

Anehnya, kali ini hanya remaja-remaja dusun Ngujung saja yang membawanya kembali. Seolah lumpang tersebut merasa senang dikembalikan lagi ke tempat asalnya sehingga menjadi ringan.

Alhamdulillah, setelah lumpang tersebut kembali ke Urung-urung lagi, tanah pertanian di dusun Ngujung, kembali subur seperti semula dan hasil pertanian menjadi melimpah kembali. Ternyata Tuhan menunjukan kekuasaannya melalui peninggalan Mpu Sindo ini yang berbentuk sederhana ini.

Itulah perjalanan lumpang kentheng peninggalan masa Mpu Sindok yang sekarang berada di petilasan Urung-urung.

Urung-urung Dan Potensinya sebagai Kampung Wisata Agrohistori 

Tidak banyak orang yang tahu, jika di dusun Ngujung terdapat satu peninggalan sejarah yang erat kaitannya dengan asal-usul kerajaan Singasari. Menurut beberapa pelaku spiritual, di Urung-urung inilah, pada masa lalu Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel, sering melakukan laku prihatin dalam mendapatkan kesaktiannya.

Setelah mengunjungi Urung-urung bersama Bapak Imam Santoso dan Mas Pram, dua orang pemerhati budaya dan wisata, penulis melihat banyak potensi yang dapat dikembangan di daerah ini selain wisata sejarah yang belum optimal dimunculkan.

lumpang kentheng, mpu sindok, peninggalan sejarah, situs purbakala
Potensi wisata di Urung-urung, Ngujung, Singosari

Urung-urung memiliki potensi yang besar untuk menjadi salah satu desa wisata yang mengusung konsep agrohistory. Dengan cara menggabungan konsep sejarah dengan pertanian seperti yang terdapat di Kampung Kopi Karanganyar, Blitar.

Saat ini, kondisinya memang jauh dari memadai. Namun, ditangan para professional ditambah dukungan dana dari investor serta peran serta masyarakat setempat, Urung-urung dapat berubah menjadi tempat wisata edukasi yang mengandung nilai-nilai sejarah dan hasil pertanian.

Dengan adanya Kampung wisata di Urung-urung ini, diharapkan secara perlahan, roda perekonomian masyarakat sekitar juga akan turut berkembang.

Baca Juga : Kebun Kopi Karanganyar, Nglegok, Blitar : Wisata Agrohistori Yang Wajib Dikunjungi

Penutup

Sahabat dolenners, itulah ulasan tentang satu objek wisata sejarah yang belum banyak dikenal masyarakat, sebuah lumpang kentheng peninggalan masa Mpu Sindok. Meskipun hanya sebuah lumpang saja, namun memiliki hubungan yang erat dengan masyaraat desa Toyomarto.

Nah, tunggu apalagi? Mari bersama-sama memelihara, menjaga dan mengembangkan warisan peninggalan leluhur bangsa Indonesia, dalam bentuk apapun sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat.


  

Rumah Dijual Jl. Ontoseno
Dijual rumah siap huni di Jl. Ontoseno VII No.49 Malang, luas tanah 212m2, 4 kt, 2 km, sertifikat SHM dengan harga Rp. 900 juta. Hub. 0821 5909 8986.
Singhasari Property

Ads by 88 Production

1 comments: