Home » , , , » Mengenang Tragedi Cinta Pertama Ratu Singosari di Situs Ken Dedes

Mengenang Tragedi Cinta Pertama Ratu Singosari di Situs Ken Dedes

Ayo Dolen Rek Ke Situs Ken Dedes Polowijen - Hari yang cerah ketika kami mulai melangkahkan kaki menyusuri pinggiran sungai kecil di Kampung Budaya Polowijen lalu menapakkan kaki di pematang sawah. Tidak begitu lama,  di batas hamparan padi yang mulai menguning, nampak pohon-pohon besar dengan daun yang rimbun berwarna hijau segar. Dibawahnya, terdapat papan dengan penyangga besi  bertuliskan “Situs Ken Dedes”.

Dibelakangnya, terdapat bangunan kecil berupa pendopo dengan arsitektur Joglo yang dikelilingi pagar setinggi 1 meter dengan gapura yang dihiasi ornament teratai tunjung dan simbol Cakra Majapahit. Masuk ke dalam area ini, kita akan menemukan sebuah pohon bersarung kain hitam putih yang dibawahnya terdapat tiga sumur. Ketiga sumur inilah yang disebut sebagai Sumur Windu.

situs ken dedes; situs kendedes; situs kendedes polowijen; sendang dedes; sendang ken dedes; sendang dedes polowijen; watu kenong; situs watu kenong; sumur windu; sumur windu polowijen malang; situs kendedes polowijen malang
Situs Ken Dedes, Polowijen, Malang

Namun, dari ketiga sumur ini, hanya dua sumur yang diberi ornamen rumah joglo kecil atau cungkup yang di sebelahnya terdapat payung susun tiga berwarna hijau. Sementara sumur satunya, terdapat sebuah batu andesit di dampingi tiang bendera merah putih.

situs ken dedes; situs kendedes; situs kendedes polowijen; sendang dedes; sendang ken dedes; sendang dedes polowijen; watu kenong; situs watu kenong; sumur windu; sumur windu polowijen malang; situs kendedes polowijen malang
Sumur Windu di Situs Ken Dedes, Polowijen, Malang

Diantara ketiga sumur dan pohon ini terdapat sebuah altar dengan keramik berwarna putih seluas 2 x 1 meter. Disamping sumur ketiga, terdapat “watu kenong”  atau batu berbentuk alat music jaman dulu. Konon, batu ini adalah alat musik yang dikutuk oleh Joko Lola sehingga menjadi batu.

situs ken dedes; situs kendedes; situs kendedes polowijen; sendang dedes; sendang ken dedes; sendang dedes polowijen; watu kenong; situs watu kenong; sumur windu; sumur windu polowijen malang; situs kendedes polowijen malang
Watu Kenong, alat musik yang dikutuk menjadi batu di Situs Ken Dedes

Itulah, isi dari Situs Ken Dedes yang berada di desa Polowijen, Blimbing, Malang. Lokasinya dekat dengan Kampung Budaya Polowijen dan pemakaman umum, diantara hamparan sawah, ladang dan pemakaman yang disebut Petilasan Ken Dedes.

Penduduk Polowijen menyebut Situs Ken Dedes ini sebagai “Sumur Windu Abad XI” artinya sumur yang sangat dalam tak berujung dan dibuat pada abad XI. Situs ini juga disebut sebagai “Sendang Dedes” yang dibangun oleh warga Panawijen dan diresmikan pada tanggal 20 Juni 2002.

Jika di gerbang masuk sebelah utara Kota Malang dibangun Taman Ken Dedes dengan patung Prajna Paramitha, maka di desa Polowijen inilah sosok Ken Dedes lahir dan tumbuh besar sebagai gadis putri Mpu Purwa.

Dan, keberadaan Situs Ken Dedes ini, menjadi jejak sejarah  yang menjadi kenangan tragedi cinta pertama sang Ratu SIngosari ini. Melalui dongeng yang dituturkan oleh Ki Demang, pendiri Kampung Budaya Polowijen, kami diajak untuk mengenang kembali kisah cinta putri Ken Dedes dengan pemuda dari dukuh Karuman, Dinoyo yang bernama Joko Lola. 

Tragedi Cinta Pertama Ratu Singosari

Kisah tragedi cinta pertama Ken Dedes ini terjadi sebelum ia menjalani perkawinan pertama yang dilakukan secara paksa dengan Akuwu Tumapel yaitu Tunggul Ametung. Dan, kisah ini menjadi dongeng yang dituturkan dan dipahami oleh warga desa Polowijen dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai pernikahan “wurung” atau pernikahan yang gagal.

Dalam dongeng ini juga terdapat kisah tentang asal muasal “watu kenong”, yaitu sebuah artefak berbentuk menyerupai waditra kenong dari batu andesit, yang berapa lama berada di halaman depan rumah warga pada tepi jalan desa di wilayah Kelurahan Polowijen. 

situs ken dedes; situs kendedes; situs kendedes polowijen; sendang dedes; sendang ken dedes; sendang dedes polowijen; watu kenong; situs watu kenong; sumur windu; sumur windu polowijen malang; situs kendedes polowijen malang; mpu purwa
Ilustrasi Mpu Purwa (Diorama Museum Mpu Purwa)

Pada masa itu, Ken Dedes tinggal bersama kedua orangtuanya dengan tenang dan damai di desa Panawijen. Ken Dedes tumbuh dewasa sebagai seorang gadis yang memiliki kecantikan luar biasa. Tidak hanya kecantikan lahiriah saja namun budi pekerti serta tingkah lakunya juga baik mengingat ayahnya, Mpu Purwa, adalah seorang Pendeta Agama Budha yang disegani.

Seperti halnya bunga yang sedang mekar, maka harum wangi bunga itu menyebar kemana-mana terbawa angin. Begitu pula dengan cerita kecantikan Ken Dedes. Bunga desa Panawijen ini menjadi buah bibir di kalangan pemuda dari berbagai daerah.

situs ken dedes; situs kendedes; situs kendedes polowijen; sendang dedes; sendang ken dedes; sendang dedes polowijen; watu kenong; situs watu kenong; sumur windu; sumur windu polowijen malang; situs kendedes polowijen malang; joko lola; mbah reni; ken arok; mpu purwa
Ilustrasi Ken Dedes (boombastis.com)

Namun, tidak mudah untuk mendapatkan cinta dari gadis putri Mpu Purwa ini. Sehingga banyak pemuda yang harus patah hati karena pinangannya ditolak.

Meskipun pada akhirnya harus menerima nasib pahit, Joko Lola, seorang pemuda dari dukuh Karuman yang berada dalam wilayah Dinoyo, lebih beruntung karena sempat memikat hati gadis berparas ayu ini. Keinginannya untuk mempersunting Ken Dedes diterima oleh Mpu Purwa sehingga Joko dari Karuman ini membawa pengiringnya untuk melamar.

Namun, ketika Joko Lola beserta pengiringnya telah tiba di Polowijen lengkap dengan uborampe pernikahannya, termasuk seperangkat alat musik pengiring. Mendadak, keluarga Ken Dedes mengajukan syarat yang tidak mudah dipenuhi. Pernikahan baru dapat dilangsungkan apabila Joko Lola dapat membuatkan sendang atau sumur windu dalam waktu hanya semalam.

Satu syarat yang sulit mengingat bahwa tanah di Desa Polowijen terbilang dalam dan susah mengeluarkan air sehingga permintaan tersebut sangat sulit diwujudkan.  Apalagi hanya dalam waktu semalam saja.

Akan tetapi, karena rasa cintanya dan keinginannya untuk mempersunting bunga Panawijen ini begitu kuat sehingga syarat yang sangat sulit ini disanggupinya. Dengan kesaktiannya, pada pagi dini hari sebelum matahari terbit, sebuah sendang yang cukup besar dan dalam telah tergali dan mulai mengeluarkan air.

Namun, keberhasilan itu malah membuat cemas pihak Ken Dedes. Maka, keluarga Ken Dedes membuat “siasat penggagalan”‘.  Sebelum sendang tersebut selesai, keluarga Ken Dedes segera membunyikan lesung bertalu-talu, seperti orang yang sedang bekerja menumbuk padi. Hal ini menjadi satu pertanda yang menunjukkan jika hari sudah mulai pagi. 

Tentu saja, kejadian ini membuat Joko Lola terkejut sementara pekerjaannya belum sepenuhnya selesai. Dan, keluarga Ken Dedes memutuskan Joko Lola gagal memenuhi persyaratan yang diajukan sehingga pernikahan mereka digagalkan.

Meskipun Joko Lola berpendapat jika hari belum memasuki pagi, dan kegiatan menumbuk beras  dilakukan terlampau dini. Tetapi, pihak keluarga Dedes bersikeras memutuskan dan menghakimi bahwa Joko Lola telah gagal membuat sendang dalam tempo semalam, dan sebagai konsekwensinya rencana pernikahannya digagalkan atau “wurung”.

Joko Lola marah. Ia merasa telah diakali atau disiasati sehingga rencana  pernikahannya menjadi gagal. Dan, ia merasa sangat malu, karena iring-ringan pengantin dari Dinoyo menuju Poliwijen telah tiba di lokasi pernikahan, bahkan telah datang sejak sehari sebelumnya. 

Maka, dengan kesaktiannya ditambah dengan amarahnya yang memuncak, salah satu alat musik pengiring berupa kenong ditendangnya dan dikutuk menjadi batu. Batu itulah yang dinamakan sebagai “watu kenong”.

Ken Dedes pun merasa malu sehingga ia berlari lalu terjun ke dalam salah satu sumur windu buatan Joko Lola. Sementara Joko Lola sendiri merasa malu dan telah kehilangan gadis yang sangat dicintainya sehingga ia memilih moksha atau meninggal dengan membawa serta raga atau badannya.

Tempat dimana Joko Lola mokhsa hingga sekarang masih ada dan diabadikan oleh warga Polowijen berupa tempat tetirah dengan pohon besar yang diberi sarung hitam putih. Letaknya diantara makam yang ada di pemakaman muslim Polowijen yang berada tidak terlalu jauh dari Situs Ken Dedes.

situs ken dedes; situs kendedes; situs kendedes polowijen; sendang dedes; sendang ken dedes; sendang dedes polowijen; watu kenong; situs watu kenong; sumur windu; sumur windu polowijen malang; situs kendedes polowijen malang; joko lola; mbah reni; ken arok; mpu purwa
Tempat Mokhsa Joko Lola di Pemakaman Muslim Polowijen

Kegagalan pernikahan Ken Dedes dan Joko Lola berdampak pula pada masyarakat kedua daerah ini. Sehingga hubungan baik antara warga Polowijen dan Dinoyo menjadi  ternoda. Bahkan, keluar pantangan atau “ilo-ilo” yang menganjurkan agar warga Dinoyo tidak menikah dengan warga Polowijen yang disebut dengan istilah “Satru Danyang.” 

Siapakah Joko Lola itu?

Menurut dongeng diatas yang dituturkan oleh Isa Wahyudi yang akrab dipanggil Ki Demang di Kampung Budaya Polowijen, nama Joko Lola tidak terdapat dalam naskah Pararato maupun Nagarakretagama. Nama ini sebenarnya sebutan masyarakat Polowijen bagi Ken Angrok atau Ken Arok.

Dalam serat Paraton, Ken Arok adalah anak hubungan gelap antara Ken Endok dengan Bathara Brahma, seorang Dewa dalam ajaran Hindu yang bersifat gaib atau seorang berpengaruh yang tidak mau diketahui identitasnya. Kemudian, setelah bayi itu lahir, Ken Endok membuangnya ke tengah kuburan lalu ditemukan oleh seorang pencuri bernama Lembong.

Semenjak itu, Ken Angrok pindah dari ayah angkat satu ke ayah angkat lainnya hingga menjadi anak angkat Bango Samparan yang tinggal di dukuh Karuman. Dan, Ken Angrok sering  melakukan pengembaraan atau perjalanan seorang diri.

Maka, sebutan Joko Lola yang berasal dari kata “joko” atau pemuda dan “lola” berarti pemuda tanpa ayah dan ibu atau pemuda “kabur kanginan” merupakan sebutan yang tepat bagi Ken Angrok.

Lalu, apakah Joko Lola memiliki wajah yang buruk?

Menurut Suwardono, Sejarawan Malang, keburukan Joko Lola bukanlah pada rupa atau wajahnya, namun lebih cenderung pada perilakunya. Karena, pada saat menjadi anak angkat Bango Samparan di dukuh Karuman, kenakalan Ken Angrok semakin bertambah parah. 

Jika sosok Ken Dedes yang terkenal memiliki kecantikan luar biasa ini mau menaruh hati pada Joko Lola, maka dapat dibayangkan bagaimana penampilan sosok misterius ini. Tentunya, tampan dan gagah serta flamboyant.

situs ken dedes; situs kendedes; situs kendedes polowijen; sendang dedes; sendang ken dedes; sendang dedes polowijen; watu kenong; situs watu kenong; sumur windu; sumur windu polowijen malang; situs kendedes polowijen malang; joko lola; mbah reni; ken arok; mpu purwa
Patung Ken Arok di GOR Ken Arok Malang (boombastis.com)

Suwardono mengatakan, “Ketika Ken Angrok dewasa, dia dikenal bukan sebagai pemuda dari Pangkur, tempat lahirnya, tetapi pemuda dari Karuman.” 

Sementara, penduduk Polowijen lebih mengingat Dinoyo dibandingkan dengan Karuman. Karena Dinoyo adalah kota pemerintahan yang sudah dikenal sejak masa Kerajaan Kanjuruhan. Bahkan, Dinoyo masih dikenal hingga masa Mpu Sindok sebagai daerah kekuasaan Rakryan Kanuruhan.

Apakah Ken Dedes Tidak Mencintai Ken Angrok atau Joko Lola?

Boleh dikatakan, apabila Ken Arok adalah cinta pertama Ken Dedes sebelum ia dibawa lari oleh Tunggul Ametung. Dongeng diatas merupakan satu kiasan, jika Ken Dedes menghendaki Joko Lola atau Ken Angrok untuk merubah perbuatan dan perilakunya yang buruk terlebih dahulu sebelum menikahinya. 

Dan, syarat yang sulit dan “strategi penggagalan” merupakan upaya menguji kesungguhan Joko Lola dalam memperbaiki tingkah laku dan perbuatannya. Ken Dedes menolak menikah dengan Joko Lola atau Ken Angrok karena mengetahui jika pemuda Karuman ini masih belum berubah. Masih suka merampok, menggoda gadis-gadis, berjudi dan lain sebagainya.  

Lalu, bagaimana dengan sumur Windu? 

Sumur Windu dikatakan sebagai sumur yang dalam dan tak berujung. Menurut penafsiran penulis adalah jangka waktu yang ditetapkan Ken Dedes kepada Joko Lola untuk merubah perangai dan perbuatannya yang buruk. Tidak terbatas asalkan mau berubah.

situs ken dedes; situs kendedes; situs kendedes polowijen; sendang dedes; sendang ken dedes; sendang dedes polowijen; watu kenong; situs watu kenong; sumur windu; sumur windu polowijen malang; situs kendedes polowijen malang; joko lola; mbah reni; ken arok; mpu purwa
Ken Dedes dibawa lari Tunggul Ametung (Diorama Museum Mpu Purwa)

Namun sayang, sebelum Joko Lola menunjukkan perubahan dalam dirinya, Ken Dedes sudah dibawa lari terlebih dahulu oleh Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel. Maka, harapan untuk bersama dan merajut cinta mereka kembali, harus melalui jalan yang lebih sulit.

Apabila Ken Dedes tidak mencintai Ken Angrok sebelumnya, maka  tidak semudah itu Ken Dedes langsung jatuh cinta dan mau menerima cinta dari orang yang baru dikenalnya. Bahkan, orang yang telah membunuh suaminya. Alasan yang masuk akal apabila Ken Dedes sudah mengenal Angrok jauh sebelum dia dilarikan oleh Tunggul Ametung.

Begitu pula dengan Ken Angrok, alih-alih pertama kali melihat di Taman Baboji seperti versi Pararaton, justru sejak di Panawijen dia sudah menyadari kecantikan dan kelebihan Ken Dedes.

Ketika pada akhirnya Ken Dedes dilarikan oleh Tunggul Ametung, Mpu Purwa, dalam kutuknya seperti sudah tahu akan ada balasan setimpal bagi orang yang telah melarikan putrinya. Joko Lola, yang menurut Suwardono adalah Ken Angrok itu, pasti tidak akan tinggal diam melihat perempuan yang dia cintai dibawa lari. Sehingga Tunggul Ametung akan dibunuh dan Putri Dedes akan direbut kembali.

Kesimpulan

Ken Dedes sang Ratu Singosari, tercatat dalam sejarah memiliki perjalanan cinta yang penuh dengan tragedi. Dan, dongeng lisan yang dituturkan warga Polowijen ini merupakan penegas jika sosok Ken Dedes adalah sosok wanita yang memiliki kesetiaan akan cinta pertamanya.

Meskipun harus menderita terlebih dahulu ketika dibawa paksa oleh Tunggul Ametung yang kemudian menikahinya. Akhirnya, Ken Dedes menemukan kembali cinta pertamanya dengan Joko Lola atau Ken Angrok walau harus melewati intrik dan strategi.

Seperti terdapat dalam Kisah Ramayana, akhirnya Dewi Sinta kembali ke dalam pelukan sang Rama setelah diculik oleh Rahwana. Dalam kepercayaan Hindu, jika Ken Angrok dipercaya sebagai titisan Dewa Wisnu maka Ken Dedes adalah titisan dari Dewi Laksmi atau Dewi Sri, kekasih Wisnu.

Dan, Situs Ken Dedes ini merupakan jejak sejarah tragedi cinta pertama Ratu Singosari.




0 comments:

Post a Comment